16 Tweets Jan 13, 2023
Menurut buku ini, di level eksekutif, laki2 di-reward karena berani dan ambil resiko, sementara perempuan di-reward karena benar dan presisi
Akibatnya, perempuan lebih self-critical dan mengejar kesempurnaan :')
Kata buku ini, hal ini bisa ditarik jauuuuh ke belakang ketika kecil
Anak perempuan dipuji ketika pinter di sekolah, manutan, menyenangkan
Anak laki2 dipuji ketika berani gelut :))
Nyadar ga sih di SD yg ranking banyakan cewe yaaa karena itu cara kami biar diapresiasi :')
Dan akibatnya ketika gede, burdennya sungguh banyak buat perempuan.
Perempuan profesional di India misalnya (dan aku bisa melihat diriku di sini), dituntut bukan hanya menjadi pekerja yang baik tapi juga anak yang baik dan menantu yang baik, masakannya enak :))
Jadi 12 habit yang menurut buku ini yg menahan wanita agar bisa **rise**
(1) ketakutan untuk klaim pencapaian (karena biasanya takut dikira sombong)
(2) mengira orang bakal notis dan otomatis reward kerja kita (no, kita harus jadi advokat untuk diri sendiri)
(3) terlalu menilai tinggi ekspertis (no, skill aja ga cukup, harus bisa spik spik)
(4) cuma bikin network tapi nggak make networknya secara maksimal
(5) ngga notis siapa aja yang bisa jadi *allies*
(6) terlalu setia ama kerjaan, bukan karirnya
(7) terlalu mengejar kesempurnaan
(8) terlalu mencoba menyenangkan semua orang (kamu aja ga suka semua orang, wk)
(9) minimizing (mengecilkan impact -- ah ngga papa kok gitu doang)
(10) too much (kebanyakan basa-basi)
(11) ruminating -- memamah biak (terlalu mikirin yang udah terjadi, nda move on)
(12) gampang terdistrasi -- karena katanya perempuan harusnya bisa multitasking yha padahal manusia ngga terlahir untuk multitask
Jadi kalo kamu perempuan dan pengen **rise**, untuk sekarang, bisa coba untuk break habit2 di atas. Satu-satu dulu. Don't be hard on yourself :)
Ga gampang emang karenaaaaa yaaaaaaa ini bukan sepenuhnya salah kita para wanita, makaa
Kalo kamu wanita/laki-laki dan sedang membesarkan anak, biarin habit2 di atas berhenti di generasi kita. Ga peduli gendernya, besarkan anak untuk berani ambil resiko, tidak takut salah, tapi juga punya empati dan bertanggung jawab
Dan kalo kamu menejer/punya tempat kerja, ga da salahnya baca ini juga biar paham kenapa karyawan perempuannya gini atau gitu biar kalo diskusi, punya base ground.
Atau bisa juga dibuat bikin kebijakan, misalnya...
Kalo bikin job opening, jangan ngadi-adi, cantumin yang perlu aja, karena
"Men apply for a job when they meet only 60% of the qualifications, but women apply only if they meet 100% of them."
hbr.org
Kalo kamu siap untuk breaking habit2 di atas, beberapa tips dari bukunya
(1) cari temen kantor yang bisa bantu dan dipercaya, misal pengen mengurangi kata maaf padahal ga salah "eh kalo aku minta maaf, ingetin ya, kodein ya", ga perlu TMI "aku lagu bikin habit abc"
(2) pake template untuk minta dan mencerna feedback:
- listening (karena kadang susah untuk nerima kritik)
- thanking, jangan defensif
- following up
- advertising (self-promoting)
(3) let go of judgement
Karena itulah punya temen kantor yang bisa dipercaya untuk jadi ally/peer coach ini penting, karena satu hal yang bikin kita takut berubah adalah judgement orang. Tapi kalo yg ngejudge adalah peer coach, yg tahu proses kita, mungkin akan lebih nerima
(4) "oh well" a.k.a "yowis lah"
Nyadar bahwa ga ada yang sempurna. Karena manusia ya pasti salah jadi yowislah piye meneh :))
Yang terjadi terjadilah, take action, move on
(5) remember how got you here :)
Inget banget waktu wawancara di kantor yg sekarang, w naik uber terus supirnya tanya "berangkat kerja?" "engga, mau wawancara" "well, bisa lolos wawancara tuh dah hebat, you should be proud!"
:')
Untuk yg sedang berjuang, semangat semuanya :*

Loading suggestions...