Sejarah Ulama
Sejarah Ulama

@SejarahUlama

7 Tweets Feb 04, 2023
[utas]
Sebelum memulai ceramah, KH. Hasyim Muzadi selalu diam sejenak sekira 2-3 menit membaca sesuatu dengan sangat lirih. Itu dilakukannya dalam kondisi dan suasana apapun. Tidak langsung uluk salam. โคต๏ธ โคต๏ธ
Sayup-sayup terdengar antara lain Kiai Hasyim membaca satu ayat al-Qur'an:
ูˆู‚ู„ ุฌุงุก ุงู„ุญู‚ ูˆุฒู‡ู‚ ุงู„ุจุงุทู„ุŒ ุงู† ุงู„ุจุงุทู„ ูƒุงู† ุฒู‡ูˆู‚ุง
Dan katakanlah: "Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap." Sungguh, yang batil pasti lenyap.
Kalimat-kalimatnya pelan dan tertata rapi,
kadang dengan suara agak keras tapi tidak meledak-ledak. Materi ceramahnya selalu menarik, seperti sudah sangat berpengalaman dengan panggung.
Dalam satu obrolan, Kiai Hasyim pernah bercerita, dirinya bahkan sudah berceramah keliling sejak mahasiswa,
saat ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Para kiai NU selalu punya ciri khas dalam berceramah. Yang khas dari Kiai Hasyim adalah membolak-balik kata, yang kadang seperti bercandaan saja tapi memang benar demikian, masuk akal dan lucu.
Istilah "salah paham dan pahamnya yang salah", ini yg paling populer. Ada juga, "dapat rahmat atau rahmat yang dapat." "Beda pendapat atau beda pendapatan."
Biasanya setelah ceramah, di ruangannya kepada beberapa orang Kiai Hasyim minta dinilai ceramahnya. "Gimana tadi itu (yang disampaikan dalam ceramahnya) lumayan apa ndak kira-kira?", "Lumayan apa di atas lumayan?" "Gimana tadi itu ada yang baru apa ndak kira-kira?".
Dan semua yang ditanya pasti harus menjawab "lumayan" dan "baru".
Di atas panggung kalau orang-sudah bertepuk tangan, biasanya Kiai Hasyim lantas menyela, "Ini tidak bisa di atasi hanya dengan tepuk tangan." Dan para hadirin tertawa. ู„ู‡ ุงู„ูุงุชุญุฉ (nu.or.id)

Loading suggestions...