siapa di sini yang masih suka denial sama kelebihannya?
kalo dipuji sama orang lain, responsnya langsung "ah enggak kok, kebetulan aja itu." atau "biasa aja, nggak jago2 amat kok."
ini short thread buat kamu.
kalo dipuji sama orang lain, responsnya langsung "ah enggak kok, kebetulan aja itu." atau "biasa aja, nggak jago2 amat kok."
ini short thread buat kamu.
aku pribadi punya beberapa alasan untuk denial sama kelebihan diri:
1. takut ekspektasi orang lain makin tinggi, aku gabisa menuhinnya
2. takut malah jadi sombong
3. ngerasa cuma kebetulan aja, bukan karena bener2 mampu (kalo disuruh ngelakuin lagi, belum tentu bisa)
1. takut ekspektasi orang lain makin tinggi, aku gabisa menuhinnya
2. takut malah jadi sombong
3. ngerasa cuma kebetulan aja, bukan karena bener2 mampu (kalo disuruh ngelakuin lagi, belum tentu bisa)
setelah nggak denial lagi sama kelebihan diri sendiri, aku malah bisa lebih banyak eksplor dan ngembangin kelebihan itu.
ngerasa pede ternyata ngaruh banget ke semangat belajar, kerja, dan self-development.
ngerasa pede ternyata ngaruh banget ke semangat belajar, kerja, dan self-development.
buat temen2 yang masih malu/takut buat ngakuin kelebihannya, ask yourself this question:
what impact could you have if you appreciated and amplified your strengths?
what impact could you have if you appreciated and amplified your strengths?
kamu mungkin ngerasa kelebihanmu sepele/nggak penting, tapi bisa jadi kelebihan itu sangat impactful buat orang lain.
masalahnya, impact itu cuma bisa terasa kalau kamu mengakui + mengembangkan kelebihan itu.
masalahnya, impact itu cuma bisa terasa kalau kamu mengakui + mengembangkan kelebihan itu.
jadi, apa pun kelebihan kamu: good listener, empathy, leadership, public speaking, negotiation, writing, management, dll., SHOW YOURSELF.
the world needs more people like you.
the world needs more people like you.
note: ngejawab "ah biasa aja" atau "cuma kebetulan" boleh2 aja kalau untuk alasan kultural/basa basi.
tapiiii jangan sampe terinternalisasi (kita beneran percaya kalo kita gabisa apa2, keberhasilan kita 100% by accident) & kena impostor syndrome.
tapiiii jangan sampe terinternalisasi (kita beneran percaya kalo kita gabisa apa2, keberhasilan kita 100% by accident) & kena impostor syndrome.
Loading suggestions...