STY adalah pelatih hebat. Permainan timnas progresnya meningkat cukup pesat. Kalau yg ngikutin space SEA Today x Panditfootball, dr fase grup sampe preview leg kedua vs Vietnam saya optimis kalau Indonesia bisa ke final. Kekalahan di leg kedua bikin saya berubah pikiran soal STY.
Optimis saya terhadap STY sedari awal karena soal taktikal beliau gak ada masalah. Indonesia selalu jadi tim yg lebih baik dan lebih banyak dari segi peluang. Sampai leg kedua pun gak berubah. Tapi problem penyelesaian akhir jadi masalah yg gak terselesaikan sampai leg kedua.
Soal masalah finishing ini datangnya dari kompetisi. Terdengar klise, tapi benar: timnas yg baik datang dari liga yg baik. Liga yg baik datang dari federasi dan klub yg baik. Inilah masalah akut kita. Federasi dan klub kita gak baik2 saja. STY bukanlah sosok untuk masalah ini.
Saya dukung STY out karena percuma kita punya pelatih hebat soal taktikal tapi para pemain kitanya "gak bisa" mengeksekusi taktik tersebut. Sindiran "Pep Guardiola pun bakal kesulitan kalau latih timnas" itu sangat relate.
Eksekusi taktik pemain kita bukannya buruk, membaik kok perlahan-lahan. Cuma kalau sekelas pemain timnas kita bermasalah di finishing setiap pertandingan, mungkin ini soal "basic". Ini pertanyaan buat sepakbola kita: buat federasi, buat klub.
Saya singgung soal klub di sini karena orang2 federasi adalah orang di klub (Liga 1). Dan kalau dipikir-pikir, klub2 kita yang selalu jorjoran buat pemain dan pelatih asing itu melupakan sarana dan prasana buat pemain. Cuma mikirin juara, gak mikirin perkembangan pemain lokal.
Contoh gampang. Banyak pemain Garuda Select yg potensial. Bagas Kahfi, Kakang, Fajar Rahman, David Maulana, Bryan Aldama dan lain-lain. Begitu ke klub Indonesia potensi mereka gak keliatan. Selain gak dapet menit bermain, alasannya ya karena infrastruktur kita gak seperti di GS.
Klub gak bisa memaksimalkan potensi pemain. Pemain2 bagus yang ada saat ini berasal dari bakat alami yg mereka miliki. Sehebat-hebatnya sebuah SSB memoles pemain, infrastruktur mereka ya biasa aja. Karena mereka tujuannya asal survive, mengandalkan iuran dari peserta.
Tengok Man City. Begitu mereka punya sponsor besar, akademi jadi salah satu concern utama. Sekarang akademi mereka salah satu yang terbaik di dunia. Southampton juga gak juara2 tapi selalu menghasilkan banyak pemain bagus karena akademi mereka salah satu yang terbaik.
Klub2 kita memang "gak peduli" ke pemain muda. Yang penting berkompetisi. Yang penting target tinggi. Akhirnya dana2 besar dari sponsor yang kita tahu jumlahnya belasan bahkan puluhan M setiap tahun itu alokasinya hanya untuk memperkuat timnya, bukan untuk memperkuat timnas.
STY seorang tak akan menyelesaikan masalah sepakbola kita. Kekalahan vs Vietnam merupakan kekalahan eksekusi taktik, yang terkait dengan kualitas dasar pemain. Finishing bukan hanya soal striker, tapi semua pemain yang memiliki chance untuk bikin gol. Itu semua hulunya dari klub.
Selama sepakbola kita gini2 aja, saya rasa kita gak butuh pelatih jenius taktik. Gaji mahal untuk glorifikasi semu. Bahkan takutnya, kalau STY atau ada pelatih hebat lain bikin keajaiban bawa Indonesia juara, "mereka" akan semakin membusung dada, merasa sepakbola kita baik2 saja.
STY out bukan untuk menjadikannya sebagai kambing hitam atas kegagalan di Piala AFF kemarin. STY out justru untuk menyadarkan bahwa kegagalan2 kita bukan disebabkan oleh pelatih, melainkan oleh mereka2 yg merasa tak bertanggung jawab terhadap perkembangan kualitas pemain kita.
Loading suggestions...