Neo Historia Indonesia
Neo Historia Indonesia

@neohistoria_id

10 Tweets 2 reads Feb 05, 2023
Ave Neohistorian!
Cordyceps Sinensis (Bahasa Mandarin: Dong Chong Xia Chao, Bahasa Tibet: Dbyar Rtswa Dgun 'bu, Bahasa Jepang: Tochukaso) adalah sejenis bahan obat tradisional di Asia Timur yang berasal dari jamur parasit yang tumbuh di tubuh larva Ngengat Hantu.
Spesies jamur ini terdapat banyak di wilayah pegunungan Himalaya dan banyak dimanfaatkan sebagai obat-obatan.
Penggunaan pertama Cordyceps Sinensis dapat kita temukan di Kitab Man Ngag Bye Ba Ring Bsrel (Intruksi untuk ragam obat-obatan) yang ditulis oleh...
Dokter asal Tibet bernama Zurmkhar Mnyamnyid Rdorje (1439–1475) yang mengatakan bahwa jamur Cordiceps bisa digunakan untuk meracik obat perangsang.
Dalam khazanah kedokteran Tiongkok, jamur Cordyseps juga tercatat dalam Kitab Ben Cao Bei Yao buatan dokter bernama Wang Ang pada tahun 1694 dan di kitab buatan Dokter bernama Wu Yiluo yakni Ben Cao Cong Xin pada abad ke-18.
Warga Tionghoa percaya bahwa Jamur Cordyseps dapat menyeimbangkan elemen Yin-Yang dii dalam tubuh karena jamur itu memiliki elemen tumbuhan dan hewan sekaligus.
Di wilayah Tibet, Cordyseps menyumbang penghasilan bagi 40 persen rumah tangga disana dan 8.5 persen dari total Produk Domestik Bruto pada 2004.
Di Nepal sendiri, 19 orang pernah didakwa menghabisi sekelompok petani karena memperebutkan Cordyseps guna dijual sebagai obat perangsang.
Ketika Perang Saudara Nepal (1996-2006) pecah, Partai Komunis Maois Nepal berusaha menguasai produksi dan ekspor Cordyseps dari tangan kelompok borjuis.
Referensi:
Winkler D. (2008). "Yartsa Gunbu (Cordyceps sinensis) and the fungal commodification of the rural economy in Tibet AR". Economic Botany. 62 (3): 291–305

Loading suggestions...