Sayid Machmoed BSA
Sayid Machmoed BSA

@sayid__machmoed

35 Tweets 47 reads Jan 31, 2023
Adakah yang masih ragu mengatakan bahwa Wahabi itu Mujassim?
Wahabi itu benar-benar menjisimkan Allah, mereka berkata Allah punya wajah, tangan, kaki, mata dan jari.
Ahlussunnah wal jamaah dan semua ulama mengatakan, itu semua sifat, tapi Wahabi mengatakan itu dzat
Yad/tangan adalah sifat, semua ahlussunnah wal jamaah menerima dan mengimani.
Hanya saja ahlussunnah wal jamaah menyerahkan hakekat maknanya kepada Allah, bukan mendefinisikan maknanya sendiri.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan :
من قال الله جسم لا كالأجسام كـَفَـرَ
Barangsiapa yang mengatakan, Allah itu berjisim tapi tidak seperti jisim lainya.! Maka ia telah Kafir (kufur dalam i’tiqod)
📚Tasyniful Masami’ : juz 4, halaman : 684
Menurut Imam Al-Qurthubi rahimahullahu ta'ala tentang keyakinan Mujassimah (Wahabi)
"Mujassimah di zaman kita, mereka adalah orang-orang Kafir yang harus bertaubat"
Al Imam Abu Ja'fat At Thohawi (ulama Salaf) di dalam kitab Aqidahnya mengatakan:
ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر فقد كفر
Barang siapa menyifati Allah dengan salah satu makna sifat dari makna-makna sifat manusia, maka dia KAFIR..!!
Imam Ibnu Hajar dalam fath al bari menerangkan:
وَاتفقَ أهل السّنة وَالْجَمَاعَة على أَنه لَيْسَ المُرَاد بِالْيَدِ الْجَارِحَة الَّتِي هِيَ من صِفَات المحدثات
وأثبتوا مَا جَاءَ من ذَلِك وآمنوا بِهِ فَمنهمْ من وقف وَلم يتَأَوَّل وَمِنْهُم من حمل كل لفظ مِنْهَا على الْمَعْنى الَّذِي ظهر لَهُ
“Sudah jadi kesepakatan Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa yang dimaksud dengan “yad/tangan” BUKANLAH ANGGOTA TUBUH yang tak lain sebagian sifat makhluk
Mereka MENETAPKAN teks yang datang (dari ayat atau hadis) tentang hal itu dan mengimaninya. Kemudian sebagian mereka ada yang tak berkomentar dan tak mentakwilnya. Sebagian lainnya ada yang membawa seluruh teks sifat itu atas makna yang nampak baginya (sesuai konteks)”.
فتح الباري لابن حجر (1/ 208)
Semua pembahasan Ilmu Tauhid terkumpul dalam dua kesimpulan di bawah ini :
1. Meyakini bahwa apapun yang tergambar, terbesit, dan tervisualisasi oleh otak, maka Allah pasti berbeda dengan itu semua.
2. Meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan dzat apapun secara mutlak, tanpa menafikan sifat-sifatNya yg mulia.
~Imam Abu Ishaq Al-Isfirayini
Dua hal inilah yg menjadi pembeda Ahlussunnah dan Ahlul Bid'ah.
Menurut para imam terdahulu, ahli bid’ah bukan orang yg berbeda pendapat dalam tataran furuiyyah fikih (hal amaliah), "Tetapi orang yang tersesat dalam urusan akidah".
Dari kalangan Hanafiyah imam Ibnu Abidin, misalnya, mengungkapkan:
أهل الْبدعة : كل منْ قال قوْلا خالف فيه اعْتقاد أهل السنةِ والْجماعة
“Ahli bid’ah adalah semua orang yang mengatakan perkataan yang di dalamnya menyelisihi Aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah.
Perkataan senada juga dapat dilacak jauh ke belakang masa salaf. Salah satunya definisi dari Imam Malik :
أهل البدع الذين يتكلمون في أسماء الله وصفاته وكلامه وعلمه وقدرته، ولا يسكتون عما سكت عنه الصحابة والتابعون لهم بإحسان.
“Ahli bid’ah ialah orang-orang yang berkata tentang nama-nana Allah dan sifat-sifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya dan tak diam dari apa yg didiamkan para sahabat dan tabi’in.”
Mak dari itu dapat disimpulkan bahwa ahli bid’ah sebenarnya mengacu kepada mereka yang aqidahnya menyimpang, bukan mengacu kepada orang yang melakukan; maulid, tahlilan, ziarah kubur dan amaliyah Ahlussunnah wal jamaah lainnya.
Kembali ke pembahasan awal
Tafwidh makna hanya mengimani murni lafadz-lafadz nash sifat, sedangkan maknanya dikembalikan kepada Allah.
Ibnu Abdil Barr termasuk ulama yang kadang Menakwil dan kadang Mentafwidh.
الحافظ ابن عبد البر المالكي رحمه الله يجزم بتأويل الضحك المضاف إلى الله عزوجل ويؤكد أنه مجاز مفهوم!!! ولكن بعض الناس لا يفهمون
Bagi yang memiliki Maktabah Syamilah atau semisalnya, maka bisa memanfaatkan Search engine di dalam tools bar "Find"
Bagi yang awam kalau ada nash-nash sifat semisal:
Yad jangan dimaknai Tangan
'Ain jangan dimaknai Mata
Wajh jangan dimaknai Wajah
Saqq jangan dimaknai Betis
Istawa’ jangan dimaknai Istiqror (Bersemayam) dan Julus (Nongkrong)
Lalu bagaimana kita memaknainya.?
Serahkan maknanya kepada Allah, kita cukup membenarkan dan kita imani lafadz lafadznya
Inilah Aqidah Salafus sholeh yang asli bukan seperti Aqidah Wahabi, palsu.!
Di dalam nash-nash sifat terdapat seperti: Wajhullah (wajah Allah), Yadullah (tangan Allah), Rijlullah (kaki Allah), 'Ainullah (mata Allah), akan tetapi semuanya itu tidak disebut Dzat,
akan tetapi Sifatudz dzat, ini adalah madzhab Ahlussunnah Wa jamaah, semua ulama mengatakan begitu.
Contoh di dalam Syarah Sahih Bukhari karya Ibnu Baththal :
استدلاله من هذه الآية والحديث على أن لله تعالى وجهًا هو صفة ذاته
Pengambilan dalil (Al Bukhari) dari ayat ini dan hadis bahwasanya Allah ta'ala mempunyai Wajah, Wajah ini adalah Sifat Dzat Allah.
وإنما لم يجز أن يقال: إن وجهه جارحة لاستحالة وصفه بالجوارح
Dan sesungguhnya tidak diperbolehkan mengatakan : Bahwa Wajah Allah itu jarihah (anggota tubuh) karena mustahil menyifati Allah dengan anggota-anggota tubuh (jawarih).
Bila semua itu disebut Dzat Allah maka itu sangat berbahaya, karena Allah tidak tersusun dari tangan, kaki, mata, wajah apa lagi jari.
Bila di maknai dhahir seperti kaidah Wahabi
كل شيء هالك إلا وجهه
Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah Allah.
Berarti tangan, kaki, mata telinga Allah juga hancur.🤪
Pertanyaan; beranikan Wahabi memaknai makna dzahir lughoh pada ayat di atas.?
Kesalahan fatal Wahabi adalah memaknai dengan Dzahir Bahasa pada nash sifat.
Wahabi menetapkan sifat fisik dan berkata bahwa yang disembahnya punya tangan, wajah, mata, kaki dan jari.
Kemudian mereka tampakkan kejahilan dengan menukil perkataan Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari yang berkata :
عَلَی ظَاهِرِهِ
Berdasarkan dzohirnya.
Lalu membuat fitnah dengan menuduh sang Imam memiliki keyakinan dengan mereka.
Menyebalkan.!
Sejak kapan dzahir diartikan terjemah?
Wahabi mengatakan itu bukan dzohir, melainkan terjemah.
Tangan, wajah, mata, kaki dan jari itu semua terjemah, bukan dzohir.
Dzahir itu artinya yang nampak.
yang nampak يَدٌ maka berkata يَدٌ.
Bahlol .!
Perlu di ketahui yang dikatakan Wahabi itu bukan 'ala dzohirihi, melainkan
عَلَی تَرْجَمَتِهِ
(Menetapkan sifat) berdasarkan terjemahnya.!
Para ulama salaf membedakan antara dzahir dan terjemah. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Suraij :
ﻭﻻ ﻧﺘﺮﺟﻢ ﻋﻦ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﺑﻠﻐﺔ ﻏﻴﺮ اﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻭﻧﺴﻠﻢ اﻟﺨﺒﺮ اﻟﻈﺎﻫﺮ ﻭاﻵﻳﺔ اﻟﻈﺎﻫﺮ
Kami tidak akan menterjemahkan sifat sifat Nya dengan bahasa selain bahasa arab, dan kami menerima khabar yang Dzahir serta ayat yang Dzahir.
📚Al Uluw karya Imam Adz Dzahabi. 208/1
Imam Sufyan bin Uyainah berkata :
ﻟﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻔﺴﺮﻩ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﻔﺎﺭﺳﻴﺔ
Tidak boleh bagi seseorang menjelaskan maknanya dengan bahasa arab dan menterjemahkannya dengan bahasa Persia.
Riwayat Imam Baihaqi dengan sanadnya di dalam kitab Al Asma Wa Shifat. 117/2
Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari yad bukan bemakna fisik.
إثبات يدين وليستا جارحتين
Menetapkan dua yad bukan bermakna fisik.
📚Al Ibanah. 134/1.
Maka jelas para ulama mengatakan, bahwa dzahir itu maksudnya bukan menterjemahkan.
Bahkan dilarang menterjamahkan yad karena yang demikian menandakan memahami sifat yad dengan makna fisik (jarihah).
Wahabi memang benar benar orang orang sesat yang memahami ayat-ayat mutasyabihat untuk membuat fitnah.
Kebanyakan pengikut dari mereka adalah kaum muda baik laki-laki maupun perempuan yang lemah iman, dangkal pemahaman ilmu pengetahuan dan agama,
hanya cukup belajar melalui media sosial, atau youtube, tanpa berguru dan ngaji yang benar di pondok pesantren. Banyak dari mereka menjadi korban doktrin kesesatan.!
Untuk menutupi jati diri sebenarnya, mengelabui, membohongi dan menipu umat muslim
mereka mengubah nama (Wahabi menjadi salafi, terkadang Ahlussunnah) akan tetapi, pada hakikat nya mereka tetap menunjukkan kebiasaan buruk nan tercela dan ciri khas nya yang hingga kapanpun tak akan pernah bisa lepas dan jauh dari dakwah mereka.!
Semoga bermanfaat 🙏🏿🌹

Loading suggestions...