Pecinta Sejarah Tanah Air (PEJANTAN)
Pecinta Sejarah Tanah Air (PEJANTAN)

@PecintaSejarah2

59 Tweets 45 reads Feb 01, 2023
Syam Kamaruzaman, agen Biro Chusus PKI (BC PKI).
Banyak referensi yg menceritakan sepak terjang Syam dalam G30S/PKI.
Namun tak lengkap jika kita tidak membahas Biro Chusus PKI.
Karena keduanya saling berkaitan sehingga kita bisa memahami secara utuh manuver PKI dlm G30S/PKI
Syam Kamaruzaman boleh dibilang sebagai sosok yg misterius, namun sosoknya merupakan tokoh penting dalam setiap manuver politik PKI.
Syam memiliki lima nama alias, yaitu Djimin, Syamsudin, Ali Mochtar, Ali Sastra, dan Karman.
Dari sini kita sudah bisa menerka, apa perannya di PKI
Syam tercatat ikut serta dalam pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, namun Syam akhirnya berhasil menyingkir ke Jakarta setelah pemberontakan PKI Madiun berhasil dipadamkan oleh TNI.
Sosoknya cukup banyak dikenal oleh para perwira militer, terutama dalam kelompok Pathuk.
Kelompok Pathuk sendiri adalah tim khusus yg biasa mengerjakan misi pasukan komando, yaitu melakukan infiltrasi, surveilance, hingga sabotase dan penyerangan terhadap musuh.
Kelompok ini eksis di masa pendudukan Jepang.
Kiprahnya di kelompok Pathuk membuat Syam mengenal banyak tokoh yg dikemudian hari sudah menjadi perwira militer hingga pejabat pemerintahan.
Kelompok Pathuk sendiri diarsiteki oleh Sutan Syahrir yg berideologi kiri atau sosialis.
Tahun 1948 Pecah pemberontakan PKI di Madiun, Syam ketika itu tengah berada di Jakarta dan sedang membina serikat buruh di Pelabuhan Tanjung Priok.
Gagalnya pemberontakan PKI di Madiun, membuat tokoh muda PKI melarikan diri ke Jakarta, termasuk DN Aidit dan Lukman.
Syam yg merupakan tokoh serikat pekerjaan pelabuhan, membantu lolosnya Aidit dari kejaran petugas.
Jasa inilah yg membuat Syam begitu dipercaya oleh Aidit menjadi salah satu tokoh kunci PKI di kemudian hari.
Pasca kegagalannya pada pemberontakan Madiun, PKI mereformasi organisasinya. Aidit, Lukman, Nyoto dan Sudisman menyingkirkan tokoh tua PKI.
Ditangan tokoh muda, PKI memutuskan untuk fokus bergerak di jalur politik.
Perkembangan pesat PKI di era kepemimpinan Aidit membuat PKI sukses meraih predikat sebagai parpol papan atas. Dalam Pemilu tahun 1955 PKI berada di urutan ke-4 secara nasional. Itu artinya PKI berhak masuk kabinet Soekarno.
Masifnya perkembangan PKI juga ditopang oleh kondisi geopolitik yg ketika itu tengah berkecamuk perang dingin.
Masih bercokolnya tentara Belanda di Irian Barat menjadi barometer bahwa Indonesia masih belum lepas dari cengkeraman kolonialisme.
Polarisasi kekuatan besar politik dunia terkonsentrasi pada 2 blok, yaitu blok Barat yg merupakan kelompok negara imperialisme pimpinan Amerika dan di blok Timur bersatunya negara-negara berhaluan sosialis dan Komunis.
Tak ingin terlibat polarisasi tersebut, membuat Indonesia memutuskan untuk menjadi negara netral dan membuat poros gerakan Non-Blok bersama Yugoslavia, Mesir, India dan Ghana.
Netralitas ini membuat Indonesia bebas menjalin hubungan diplomatik dengan negara manapun.
Namun Indonesia masih menghadapi persoalan tentang teritori, dimana Irian Barat masih diduduki oleh Belanda.
Setelah melewati berbagai perundingan dengan pihak Belanda, tak terlihat itikad baik Belanda untuk menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah Indonesia.
Gagalnya perundingan dengan Belanda, membuat Soekarno mengambil langkah strategis dengan memilih membebaskan Irian Barat melalui jalan konfrontasi militer.
Keputusan ini tercermin pada terbitnya Trikora.
Genderang konfrontasi militer ini membutuhkan pasokan alutsista, saat itu Indonesia meminta pasokan senjata dari Amerika. Namun hal itu sulit terealisasi, mengingat Belanda merupakan Sekutu Amerika di NATO atau Blok Barat.
Tak ingin kalah dari Belanda, Soekarno memutuskan untuk mencari pasokan senjata dari Blok Timur. Keputusan ini dimanfaatkan betul oleh PKI, dimana PKI menjadi ujung tombak negosiasi guna mendapatkan limpahan senjata dari negara Pakta Warsawa.
Strategi diplomasi ini berjalan lancar, Russia mengirimkan 20 Pesawat Pemburu Supersonic MiG-21, 30 Pesawat MiG 15, 49 pesawat MiG 17, 10 Pesawat Supersonic MiG-19, juga 26 pesawat pembom jarak jauh Tu-16 Tupolev.
Di matra Laut, Indonesia mendapatkan 12 fregat, 12 kapal selam, 22 kapal cepat bertorpedo dan berpeluru kendali, 4 kapal penyapu ranjau, dan KRI Irian. KRI Irian adalah kapal raksasa kelas Sverdlov berbobot 16.640 ton yang dilengkapi 12 meriam besar kaliber 6 inci
Di matra darat Indonesia mendapatkan limpahan sistem radar, meriam, tank, helikopter serbu, senapan serbu, senapan mesin hingga rudal SA-2.
Dengan kekuatan yg besar itu membuat Indonesia satu-satunya negara di Asia Tenggara yg memiliki alutsista standar negara Pakta Warsawa.
Melihat kekuatan militer Indonesia yg meningkat pesat, akhirnya Amerika membujuk Belanda untuk angkat kaki dari Irian Barat. Sebab jika Belanda tetap berperang dengan Indonesia, dapat dipastikan Belanda mengalami kekalahan telak. Itu akan membuat aib bagi NATO.
Usai pembebasan Irian Barat, Indonesia memasuki fase konfrontasi dengan negara Persemakmuran yaitu Malaysia dan Singapura. Sistem Persemakmuran dianggap sebagai Neo-Kolonialisme dan mengancam keamanan teritorial Indonesia.
Menghadapi itu, Soekarno sangat perlu mendapatkan sokongan persenjataan lebih banyak dari Soviet dan China.
Itu artinya perlu peran lebih besar dari PKI selaku mediator yg dipercaya oleh pihak Russia dan China. N
Namun status Indonesia yg merupakan anggota Non-Blok membuat kekhawatiran pihak Russia dan China, mereka menginginkan jaminan kepastian arah kiblat politik Indonesia.
Artinya Russia dan China ingin Indonesia menjadi negara Komunis agar bisa mendapatkan kepercayaan lebih besar.
Syarat dari Pakta Warsawa itu mendatangkan angin segar bagi PKI, artinya Soekarno akan sangat bergantung pada PKI.
Namun disisi lain PKI sadar betul bahwa kemajemukan serta kultur masyarakat Indonesia yg kental dengan sentuhan agamis merupakan hambatan bagi PKI.
Tantangan ini membuat PKI semakin agresif, ingin mempercepat tranformasi ideologi dari Pancasila ke Komunisme, sesuai cita-cita ideologis PKI.
Semua harapan PKI hanya bisa terwujud apabila PKI menjadi kekuatan dominan di Parlemen.
Demi mewujudkan cita-citanya, PKI memilih strategi ekstrim yaitu melumpuhkan lawan politiknya.
Strategi yg dijalankan adalah politik kotor berupa infiltrasi ke parpol, ormas hingga militer, guna melemahkan lawan politiknya.
Infiltrasi hanya bisa dilakukan jika PKI memiliki badan khusus yg bertugas menyusup ke berbagai departemen, parpol, ormas, komunitas tani dan serikat buruh hingga ke tubuh militer.
Untuk itu PKI membuat Biro Chusus (BC), Syam Kamaruzaman dipercaya untuk memimpin BC PKI.
Bisa dikatakan BC ini adalah satuan intel khusus PKI. Dengan mengepalai Biro Chusus, Syam mutlak hanya bertanggungjawab kepada Ketua Umum PKI yakni DN Aidit.
Dalam sepak terjangnya, Syam menyusupkan anggota PKI ke dalam berbagai organisasi eksternal, departemen dan militer.
Bahkan media massa pun tidak luput dari infiltrasi BC PKI.
Setelah itu BC PKI mencoba mengambil alih pimpinan Organisasi dan Parpol.
Contoh infiltrasi yg dilakukan oleh anggota PKI adalah drama kepindahan Jusuf Muda Dalam ke PNI.
Kehadiran JMD menebarkan bibit perpecahan di Internal PNI, sehingga sebagian anggota pengurus PNI condong kepada komunisme.
Selain itu juga atas dukungan PKI, JMD berhasil menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia merangkap menteri urusan perbankan.
Dari situ JMD memberi suntikan dana kepada PKI dan ormas-ormasnya.
Keren Khan. 😁
Begitu juga terhadap Ormas, Serikat Buruh, dan Departemen, BC PKI menjerat para petinggi ormas dengan berbagai skandal. Baik skandal seks hingga skandal korupsi.
Modusnya memberikan suap kepada para petinggi ormas.
Terhadap para pejabat juga mereka menerapkan mekanisme kerja serupa, yaitu dengan menjerumuskan para pejabat pada skandal, kemudian menyandera mereka agar mengikuti kebijakan PKI. Jika menolak, maka PKI akan membongkar skandal para pejabat tsb, dan akhirnya berujung di penjara.
Terhadap Media Massa, BC PKI menyuap para editor agar memuat berita berisi program maupun jargon serta agenda PKI. Terkendalinya pemberitaan sureat kabar dan radio, merupakan strategi brainwash PKI yg cukup berhasil mengendalikan mindset masyarakat terutama di pedesaan.
Tanggungjawab BC PKI tak hanya sampai di situ, BC PKI akan menggunakan pengaruhnya untuk mendukung promosi kenaikan pangkat dan jabatan bagi perwira yg dibinanya.
Semakin banyak jabatan strategis yg diduduki oleh binaan mereka, maka semakin besar kontrol BC PKI atas militer.
Jelang G30S/PKI, Syam selaku pimpinan BC PKI mendapat tugas untuk menggerakkan operasi militer dengan cara menghimpun kekuatan melalui para perwira militer yg dibina selama ini.
Hingga suatu saat tim mengerucutkan nama target sasaran, yaitu 7 perwira tinggi pimpinan TNI AD
Setelah beberapa hari menjelang meletusnya G30S/PKI, Syam mengumpulkan para perwira binaannya untuk rapat persiapan gerakan.
Terdiri dari AURI, TNI-AD, dan AKRI.
Banyak orang yg bertanya, mengapa perwira militer itu mau tunduk dibawah perintah Syam?
Sesuai dengan doktrin yg ladzim digunakan oleh komunisme internasional, bahwa sipil memiliki Otoritas untuk menggerakkan militer.
Sipil yg menjadi pimpinan sebuah operasi militer.
Baik dari penentuan target, strategi operasi, hingga penyusunan struktur pemerintahan pasca operasi militer semuanya ditentukan oleh Ketua CC PKI yakni DN Aidit.
Syam selaku BC PKI berperan sebagai Korlap saja.
Dominasi sipil terhadap operasi militer menimbulkan dampak yg cukup signifikan, pasalnya strategi tidak mencantumkan opsi rencana cadangan jika terjadi situasi diluar perkiraan.
Hal inilah yg konon membuat G30S/PKI mengalami kegagalan total.
Beberapa hari jelang G30S/PKI, Syam menggelontorkan dana kepada penerbit surat kabar, tujuannya supaya media massa menggencarkan berita mengenai isu 'Dewan Jenderal'.
Juga terhadap ormas2,Syam meminta agar digelar diskusi atau kegiatan pengerahan massa yg mengusung isu 'Dewan Jenderal' yg berencana melakukan kudeta.
Serikat buruh juga diminta untuk melakukan demonstrasi serta pemogokan,untuk menggoyahkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah
Dengan panasnya situasi baik di daerah maupun pusat, membuat emosi rakyat mudah terpicu oleh isu-isu strategis. Dan diharapkan ketika operasi militer dilancarkan, maka rakyat secara spontan memberikan dukungan terhadap G30S/PKI.
Hari H pun tiba, Syam berangkat bersama para perwira binaannya ke Lubang Buaya, memberikan perintah pelaksanaan gerakan.
Setelah itu Syam didampingi oleh Kolonel Latif dan Brigjen Suparjo berangkat ke gedung Penas menunggu laporan.
Perintah Syam kepada regu penculik adalah "Tangkap Dewan Jenderal dalam kondisi Hidup atau Mati, lalu bawa mereka ke Lubang Buaya, serahkan kepada pimpinan sukarelawan di situ".
Banyak yg meragukan perintah tersebut datang dari Syam, namun melihat tradisi Komunis yg selalu membunuh lawan politiknya yg tidak bisa dikendalikan, dapat dipastikan bahwa pembunuhan para jenderal ini memang sudah direncanakan dengan matang sejak jauh hari.
Fajar menyingsing, Syam pun memerintahkan Brigjen Suparjo untuk berangkat ke Istana guna melapor atau terjemahan bebasnya menawan Soekarno kemudian meminta Presiden merestui G30S/PKI kemudian menyetujui susunan Dewan Revolusi yg dibentuk oleh G30S/PKI.
Dikatakan menawan Soekarno sebab di sekitar Istana Merdeka telah diploting 2 Batalyon dari Yon 530 dan 454.
Melihat situasi seperti itu dapat dipastikan Soekarno akan tertekan dan menyetujui rencana G30S/PKI.
Namun diluar dugaan, ternyata Soekarno tidak berada di Istana Negara.
Melihat kenyataan itu, Syam yg sudah berpindah ke kediaman Mayor Agus Suyatno terlihat gelisah.
Kemudian Syam memerintahkan agar segera diumumkan dekrit penonaktifan kabinet Dwikora seraya menyampaikan susunan Dewan Revolusi melalui Corong RRI.
Fatalnya, saat dekrit itu disiarkan, Brigjen Suparjo belum berhasil menemui Soekarno. Setelah Penyiaran dekrit tsb, barulah Brigjen Suparjo bisa bertemu Soekarno di Lanud Halim PK.
Kontan Soekarno enggan merestui G30S/PKI karena posisinya bebas serta merasa perlu tambahan info.
Disaat menunggu sikap dari Soekarno, Brigjen Suparjo kembali ke markas pimpinan G30S/PKI. Hingga Senja 1 Oktober 1965, Soekarno tak kunjung menentukan sikap. Sementara pasukan Yon 530 yg kelaparan memilih bergabung ke Kostrad, sedangkan Yon 454 mengungsi ke Lanud Halim.
Senja pun hadir,Pangkostrad Mayjen Soeharto memerintahkan RPKAD untuk merebut kembali RRI dan Kantor Pusat Telkom,lalu menyiarkan pidato Soeharto yg menyatakan G30S adalah kup.
Operasi RPKAD berhasil,lalu datanglah ajudan Soekarno yakin Mayor Bambang Wijanarko menghadap Soeharto
Kepada Bambang Wijanarko, Soeharto berpesan agar Presiden Soekarno segera meninggalkan Lanud Halim PK.
Tak lama kemudian Soekarno pergi ke Istana Bogor. Tepat usai subuh RPKAD berhasil merebut Halim.
Para tokoh G30S/PKI menyadari bahwa gerakannya sudah dilumpuhkan secara militer, segera membubarkan diri. Syam menjemput DN Aidit lalu menerbangkan Aidit ke Jogja. Syam kemudian menghilang bersembunyi di Bandung.
Maret 1967, Syam tertangkap di Bandung kemudian diseret ke Mahmilum. Di dalam penjara Syam mendapatkan pelayanan istimewa dari para penjaga, fasilitas diterima Syam melebihi tahanan lainnya. Karena Syam berjanji bersikap kooperatif dengan penyidik , jaksa dan hakim.
Berkat nyanyian Syam, semua tokoh PKI yg terlibat G30S/PKI baik di pusat maupun di daerah berhasil ditangkap dan dieksekusi.
Namun atas kesalahannya, Syam pun divonis hukuman mati.
Tahun 1968 Syam menghadapi takdir mati di depan regu tembak TNI.
Udah dulu, mimin pegel ngetiknya.
Kalau ada pertanyaan atau request artikel silahkan komen ya.
Dan yg pasti ini hanya ulasan fakta sejarah masa lalu, adapun jika ditemukan kesamaan peristiwa dengan masa kini atau masa depan, itu murni hanya kebetulan semata.
😂✌
@bacautas 😂✌
Ratapan bengis tokoh PKI yg memiliki orientasi sangat sadis. 👇

Loading suggestions...