Ave Neohistorian!
Mungkin kita sering membaca bahwa Presiden pertama Indonesia, Sukarno sering disebut sebagai "Ahmad Sukarno" atau "Achmed Sukarno" dalam bacaan berbahasa asing. Padahal Sukarno tidak pernah dinamakan sebagai "Ahmad" atau "Achmed" sejak beliau lahir.
Mungkin kita sering membaca bahwa Presiden pertama Indonesia, Sukarno sering disebut sebagai "Ahmad Sukarno" atau "Achmed Sukarno" dalam bacaan berbahasa asing. Padahal Sukarno tidak pernah dinamakan sebagai "Ahmad" atau "Achmed" sejak beliau lahir.
Ternyata, hal ini bermula di Mesir. Seperti yang kita ketahui, Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Mesir memulai langkah diplomatik yang berani ini pada 22 Maret 1946. Meski demikian, terdapat beberapa perdebatan terkait keislaman Sukarno.
Beberapa pihak di Mesir, seperti media dan pers, menuding bahwa nama "Sukarno" kurang menunjukkan jati diri beliau sebagai seorang Muslim, sehingga diragukan keislamannya.
Berdasarkan sumber dari Kementerian Luar Negeri, nama "Achmed Sukarno" diciptakan oleh M. Zein Hassan, seorang mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar dan kemudian staf Departemen Luar Negeri,
untuk menegaskan identitas Presiden Sukarno sebagai seorang Muslim di mata orang Mesir dan negara Islam lainnya. Dalam korespondensi dengan negara Timur Tengah, Sukarno selalu membubuhkan tanda tangannya sebagai "Achmed Soekarno".
Hal ini kemudian diikuti oleh jurnalis asing lainnya, termasuk jurnalis dari Barat.
Referensi:
Hassan, M. Zein (1980). Diplomasi Revolusi Indonesia Di Luar Negeri: Perjoangan (sic) Pemuda/Mahasiswa di Timur Tengah. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.
Hassan, M. Zein (1980). Diplomasi Revolusi Indonesia Di Luar Negeri: Perjoangan (sic) Pemuda/Mahasiswa di Timur Tengah. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.
Loading suggestions...