Sayid Machmoed BSA
Sayid Machmoed BSA

@sayid__machmoed

25 Tweets 61 reads Feb 21, 2023
Wahabi bukan Ahlusunnah wal jamaah
سلفيةٌ لا سَلَفَ لها!
“Mereka mengaku ikut salaf, akan tetapi tidak punya salaf yang menjadi rujukan mereka!”
Wahabi selalu berlindung di balik jubah "Salaf dan Salafi" untuk pembelaan serta pembenaran doktrin sesat nya.
Khususnya yang ada di Indonesia selalu membawa-bawa dan mencatut atas nama Madzhab Hanbali untuk mengelabui, membohongi dan menipu umat Muslim.
Satu sisi mereka mengaku pengikut dan membawa panji Hanbali, akan tetapi lain sisi, kemunafikan muncul dan terlihat dari diri mereka sendiri atas ucapan atau tulisan mereka yang mengatakan "Sesat, dan Haram mengikuti Madzhab.
Tidak boleh mengikuti Madzhab, melarang fanatik madzhab dan menolak bermadzhab.
Akan tetapi pada kenyataan nya, Wahabi selalu mencantumkan nama-nama Ulama Madzhab dari yang empat, termasuk Imam Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu ta'ala
Salah satu kedustaan pendaku Wahabi atas nama Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu ta'ala adalah, Wahabi mengatakan :
"Imam Ahmad bin Hanbal, meyakini Allah Azza Wa Jalla berada di Atas Langit, bersemayam duduk di Singgasana ('Arsy)"
Padahal Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ta'ala berkata :
“Dan Allah Ta'ala tidak berubah dan tidak mengalami berpindah-pindah (pergantian), tidak di liputi oleh batasan sebelum menciptakan ‘Arsy dan Imam Ahmad bin Hanbal mengingkari orang-orang yang mengatakan bahwa
Allah Azza Wa Jalla berada di setiap tempat dengan Dzat-Nya, karena semua tempat-tempat itu ada terbatas”
Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu ta'ala secara tegas menyatakan bahwa ;
"Keyakinan Mujassimah (Tasybih dan Tajsim) adalah Keyakinan SESAT dan KAFIR"
Dalam hal ini beliau Imam Ahmad bin Hanbal jelas mengecam dan mengingkari 2 kelompok/golongan kepercayaan sesat menyesatkan;
1. Mujassimah
2. Jahmiyah
Keyakinan sesungguh nya dari Imam Ahmad bin Hanbal yaitu :
Allah Azza Wa Jalla ada tanpa tempat, mau pun arah, dan waktu. Tidak pula Allah Azza Wa Jalla berada di mana-mana, tidak pula bersemayam, duduk di 'Arsy dan tidak bersentuhan, tidak menyerupai makhluk-Nya.
Allah Azza Wa Jalla Maha Suci, Maha Agung lagi Tinggi, Maha Mulia
Dan inilah keyakinan/ Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.
Begitu juga mereka wahabi dalam menukil perkataan Imam Muzani di dalam kitab Syarhus Sunnah. Wahabi berkata.
Imam Al Muzani seakidah dengan kami karena Imam Al Muzani meyakini Allah tinggi berada di atas Arsy dengan dzat Nya.
Imam Al Muzani berkata :
ﻋَﺎﻝٍ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺮْﺷِﻪِ ﻓِﻲْ ﻣَﺠْﺪِﻩِ بِذَاتِهِ ﻭَﻫُﻮَ ﺩَاﻥَ ﺑِﻌِﻠْﻤِﻪِ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻘِﻪِ ﺃَﺣَﺎﻁَ ﻋِﻠْﻤُﻪُ ﺑِﺎلْأُﻣُﻮْﺭِ
Allah yang tinggi di atas Arsy Nya di dalam kemuliaannya dengan dzat Nya dan Dia dekat dengan mahluknya dengan ilmu Nya. Ilmunya meliputi segala sesuatu.
📚Syarhus sunnah
Kitab Syarhussunnah adalah kitab matan, untuk memahaminya kita perlu baca syarah nya.
Maksud lafadz bi dzatihi (dengan dzat Nya) yang diucapkan Imam Al Muzani bukanlah meyakini dzat Allah berada di atas Arsy tetapi menegaskan bahwa sifat Al Uluw adalah sifat yang tegak
dengan dzat Nya (sifat dzatiyah).
Penegasan sifat dzatiyah dikarenakan ada perbedaan pendapat di antara para ulama Ahlus sunnah apakah istawa sifat dzatiyah atau sifat fi'liyah (perbuatan)
dan ulama yang membawa istawa kepada Al Uluw (tinggi) berpendapat bahwa yang demikian adalah sifat dzatiyah.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani :
ﻗَﺎﻝَ ﻭَاﺧْﺘَﻠَﻒَ ﺃَﻫْﻞُ اﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻫَﻞِ الْاِﺳْﺘِﻮَاءُ ﺻِﻔَﺔُ ﺫَاﺕٍ ﺃَﻭْ ﺻِﻔَﺔُ ﻓِﻌْﻞٍ ﻓَﻤَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻌْﻨَﺎﻩُ عَلَا ﻗَﺎﻝَ ﻫِﻲَ ﺻِﻔَﺔُ ﺫَاﺕٍ ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻏَﻴْﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻗَﺎﻝَ ﻫِﻲَ
ﺻِﻔَﺔُ ﻓِﻌْﻞٍ ﻭَﺇِﻥَّ اﻟﻠﻪَ ﻓَﻌَﻞَ فِعْلًا ﺳَﻤَّﺎﻩُ اﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺮْﺷِﻪِ لَا ﺃَﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﺑِﺬَاﺗِﻪِ لِاِﺳْﺘِﺤَﺎﻟَﺔِ ﻗِﻴَﺎﻡِ اﻟْﺤَﻮَاﺩِﺙِ ﺑِﻪِ اﻧْﺘَﻬَﻰ
Imam Ibnu Bathal berkata : Ahlussunnah berbeda pendapat apakah istiwa sifat dzat atau sifat perbuatan. Ulama yang berkata maknanya adalah tinggi, dia berkata bahwa istiwa adalah sifat dzat, sedangkan ulama yang berkata dengan selain makna tinggi,
dia berkata istiwa adalah sifat perbuatan. Sesungguhnya Allah melakukan satu perbuatan, Allah menamakannya istawa di atas Arsy Nya, yang demikian bukan sifat dzat karena mustahil perkara-perkara baru tegak dengan dzat Allah. Selesai.
📚Fathul Baari.
Jika Al Uluw sifat dzat maka sudah pasti maksudnya bukan tinggi berada di atas, karena sifat dzat itu azaliyyah.
Imam Al Muzani berkata :
ﻭَﺻِﻔَﺎﺗُﻪُ ﻛَﺎمِلَاﺕٌ ﻏَﻴْﺮَ ﻣَﺨْﻠُﻮْﻗَﺎﺕٍ ﺩَاﺋِﻤَﺎﺕٌ ﺃَﺯَﻟِﻴَّﺎﺕٌ ﻭَﻟَﻴْﺴَﺖْ ﺑِﻤُﺤْﺪَﺛَﺎﺕٍ ﻓَﺘَﺒِﻴْﺪُ
Sifat-sifat Allah adalah sifat-sifat yang sempurna, bukan yang diciptakan, yang kekal, azaliyyah, dan bukan sifat-sifat yang baru diadakan lalu akan binasa.
📚Syarhus Sunnah.
Oleh karena itu Imam Muzani tidak menjelaskan maksud Al Uluw dengan makna Fii jihatil Uluw (berada di arah atas), berbeda dengan Ibnu Utsaimin (Wahabi) yang menetapkan fii jihatil uluw. Alasannya karena fii jihah (berada pada satu arah) bukan sifat azaliyyah,
melainkan sifat yang baru setelah alam semesta diciptakan. Kemudian disana Al Muzani tidak menjelaskan maksud dari sifat Al Uluw.
Maka boleh membawa maksudnya kepada Tinggi Kemuliaan, atau dengan menyerahkan Ilmunya kepada Allah SWT (Tafwidh)
Semoga bermanfaat🙏🏿🌹

Loading suggestions...