Sayid Machmoed BSA
Sayid Machmoed BSA

@sayid__machmoed

33 Tweets 19 reads Mar 15, 2023
@ilhaam_fa Dalil bahwa Allah tidak bertempat
Di dalam Al Quran disebutkan:
“Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun. Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”
(QS. Ash-Shura 11)
@ilhaam_fa Penyerupaan segala sesuatu terhadap Allah adalah batil, termasuk urusan tempat. Sebab yang bertempat hanyalah makhluk. Allah adalah pencipta segala sesuatu, termasuk tempat. Allah sudah ada sebelum ada tempat. Rasulullah SAW bersabda:
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ
@ilhaam_fa “Dahulu hanya ada Allah dan tak ada sesuatu pun selain-Nya.”
📚Shahih Bukhari
Setelah menciptakan makhluk, Allah tidak berubah sedikit pun, tetapi makhluklah yang berubah.
@ilhaam_fa Imam Abu Ja'far Ath Thahawiy :
ﻟﻢ ﻳﺰﺩﺩ ﺑﻜﻮﻧﻬﻢ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻗﺒﻠﻬﻢ ﻣﻦ ﺻﻔﺘﻪ ﻭﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺑﺼﻔﺎﺗﻪ ﺃﺯﻟﻴﺎ
@ilhaam_fa Sifat Allah tidak bertambah karena adanya mahluk dengan sifat yang tidak ada sebelum mahluk ada. Sekarang dan selamanya Allah sebagaimana dahulu dengan sifat sifat Nya azaliyyah.
📚Matan Aqidah Ath Thahawiyyah. Hal 9
@ilhaam_fa Akidah salafus shalih sebagaimana dinyatakan oleh Imam ath-Thahawi (227-321 H) sebagai berikut:
تَعَالَـى-يعني الله – عَنِ الْحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأَرْكَانِ وَاْلأَعْضَاءِ وَاْلأَدَوَاتِ لَا تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ اْلمُبْتَدَعَاتِ
@ilhaam_fa “Maha suci Allah dari batas-batas fisikal, akhiran, sisi-sisi tubuh, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).
@ilhaam_fa Dia tidak diliputi oleh enam arah (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti seluruh makhluk”.
@ilhaam_fa al-Imam Kamaluddin al-Bayadhi al-Hanafi Rahimahullahu ta’aala (w 1097 H) berkata dalam kitabnya Isyaraatul Maram min Ibaraatil Imam Abi Hanifata an-Nu’man bahwasanya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’iy dan Imam Ahmad bin Hanbal telah meniadakan tempat bagi Allah ta’ala
@ilhaam_fa قال الإمام أبو حنيفة رحمه الله تعالى في كتابه الوصية: والله على العرش استوى بلا كيف من غير أن يكون له حاجة واستقرار عليه. انتهى. وهذا مذهب السلف. فتفويض علمها إلى الله تعالى تأويل أيضا لكنه إجمالي. وهو مذهب السلف في جميع الصفات المتشابهات. واختاره مالك والشافعي وأحمد بن
@ilhaam_fa حنبل. إشارة المرام من عبارات الإمام أبي حنيفة النعمان
(ص: 156)
"Imam Abu Hanifah rahimahullahu ta’aala telah berkata dalam kitab al-Washiyah: “Allah istawa atas Arasy tanpa kaifiyah, tanpa bermakna membutuhkan Arasy dan tanpa bertempat di atas Arasy”. Saya berkata:
@ilhaam_fa “Ini adalah madzhab ulama salaf. Mentafwidh atau menyerahkan ilmunya kepada Allah ta’aala juga bisa disebut takwil ijmali. Ini adalah madzhabnya ulama salaf dalam memahami semua sifat mutasyabihat.
@ilhaam_fa Dan ini adalah pendapat yang dipilih juga oleh Imam Malik, Imam Syafi’iy dan Imam Ahmad bin Hanbal”
al-Imam Abu Bakr al-Khallal Rahimahullahu ta’aala (w. 311 H) dalam kitabnya al-Aqidah Riwayatu Abi Bakr al-Khallal menukil pernyataan al-Imam Ahmad bin Hanbal bahwasanya:
@ilhaam_fa كان الإمام أحمد بن حنبل يقول "إن الله عز وجل مستو على العرش المجيد". وكان يقول في معنى الاستواء هو العلو والارتفاع. ولم يزل الله تعالى عاليا رفيعا قبل أن يخلق عرشه. فهو فوق كل شيء، والعالي على كل شيء. وإنما خص الله العرش لمعنى فيه مخالف لسائر الأشياء. والعرش أفضل الأشياء
@ilhaam_fa وأرفعها فامتدح الله نفسه بأنه على العرش استوى أي عليه علا. ولا يجوز أن يقال استوى بمماسة ولا بملاقاة، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا. والله تعالى لم يلحقه تغير ولا تبدل. ولا تلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش. العقيدة رواية أبي بكر الخلال (ص: 108)
@ilhaam_fa "Imam Ahmad bin Hanbal pernah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah istawa atas Arasy yang mulia. Beliau juga pernah mengatakan bahwa makna istiwa’ adalah al-‘Uluw (maha tinggi) dan al-Irtifa’ (maha agung).
@ilhaam_fa Allah subhanahu wa ta’aala senantiasa maha tinggi dan maha agung sebelum diciptakannya Arasy. Allah di atas segala sesuatu dan maha tinggi atas segala sesuatu. Sesungguhnya Allah mengkhususkan penyebutan Arasy untuk suatu makna yang berbeda dengan segala sesuatu.
@ilhaam_fa Arasy itu makhluk paling utama dan paling tinggi, maka Allah memuji dirinya bahwa Dia istawa atas Arasy dengan makna maha tinggi. Maka tidak boleh dikatakan bahwa Allah istawa bermakna menyentuh Arsy atau berpapasan dengan Arasy. Maha suci Allah dari hal itu.
@ilhaam_fa Allah itu tidak berubah-ubah dan tidak berganti-ganti. Dan Allah itu tidak diliputi oleh beberapa batas baik sebelum diciptakannya Arasy maupun setelah diciptakannya Arasy".
@ilhaam_fa Al-Imam Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi rahimahullahu ta’aala (w. 429 H) telah berkata dalam kitabnya al-Farqu Baina al-Firaq wa Bayanu al-Firqah an-Najiyah bahwasanya:
وأجمعوا على أنه لا يحويه مكان ولا يجرى عليه زمان. خلاف قول من زعم من الشهامية والكرامية
@ilhaam_fa أنه مماس لعرشه. وقد قال أمير المؤمنين علي رضي الله عنه: إن الله تعالى خلق العرش إظهارا لقدرته لا مكانا لذاته. وقال أيضا: قد كان ولا مكان وهو الآن على ما كان. الفرق بين الفرق
(ص: 321)
@ilhaam_fa "Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa Allah tidak diliputi oleh tempat dan juga tidak diliputi oleh waktu. Berbeda dengan pemikiran asy-Syahamiyah dan al-Karramiyah yang meyakini Allah itu bersentuh dengan Arasy (bertempat).
@ilhaam_fa Padahal Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyalllahu anhu pernah berkata: “Sesungguhnya Allah ta’aala itu menciptakan Arasy untuk menunjukkan kekuasannya, bukan sebagai tempat untuk Dzatnya. Allah itu ada tanpa tempat dan Dia sekarang sama seperti dahulu"
@ilhaam_fa Definisi senada juga bisa dilacak jauh sebelum ulama salaf.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radliallahu’an bahwa Allah ada tanpa tempat sebagaimana teksnya berikut ini:
(جواب على بن أبي طالب حين سئل: اين ربنا ؟)
"وقال قائل لعلى بن أبي طالب رحمه الله : أين كان ربنا قبل أن
@ilhaam_fa يخلق السماوات والأرض؟ فقال على أين سؤال عن مكان، وكان الله ولا مكان"
المصدر: كتاب الكامل في اللغة والادب لأبي العباس محمد بن يزيد المبرد (ت286) ج ١ ص ۸۴ دار الفكر العربي
"Jawaban Ali bin Abi Thalib ketika ditanya: Di manakah Tuhan Kita?
@ilhaam_fa Seseorang berkata kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, semoga Allah merahmatinya: Di mana Tuhan kita sebelum Dia menciptakan langit dan bumi? Sayyidina Ali menjawab: "Di mana" adalah pertanyaan tentang tempat?" Dan Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat”
@ilhaam_fa Diriwayatkan dalam kitab al Kamil milik al Imam Abul Abbas Muhammad bin Yazid al Mubarrad (286 H) Juz 1 h 84 Dar al Fikr al Arabi
قال سيدنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه: "إن الله تعالى خلق العرش إظهارا لقدرته لا مكانا لذاته". اهـ،
@ilhaam_fa Sayyidina Ali berkata: "Sesungguhnya Allah menciptakan 'arsy untuk menampakkan kemahakuasaan-Nya, bukan Ia jadikan tempat bagi Dzat-Nya."
وقال أيضا: "قد كان ولا مكان وهو الآن على ما كان". اهـ، أي موجود بلا مكان.
رواهما الإمام المقدم الأستاذ أبو منصور البغدادي (ت429هـ) في
@ilhaam_fa بيان الأصول التي اجتمع عليها أهل السنة، من كتابه "الفرق بين الفرق"، (ص/333، دار المعرفة)
Beliau juga berkata: "Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat, dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap ada tanpa tempat."
@ilhaam_fa Kedua perkataan beliau tersebut diriwayatkan oleh Imam terkemuka al-Ustadz Abu Manshur al-Baghdadi (w. 429 H) ketika menguraikan pokok-pokok keyakinan yang telah disepakati Ahlussunnah dalam karyanya 'al-Farqu bayna al-Firaq', h 333, terbitan Dar al-Ma'rifah
@ilhaam_fa Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa inti ajaran mereka adalah itsbat (menetapkan seluruh sifat yang sahih) dan juga tanzih (menyucikan dari seluruh sifat kekurangan). Perlu di ketahui bahwa itsbat dan tanzih adalah akidah salafus shalih.
@ilhaam_fa Istawa sebagai istawla.
Abu Abdirrahman Ibnul Mubarak ( Masyhur dengan nama Ibn al-Yazidi, seorang mufassir dan ahli bahasa Arab) misalnya, yang hidup di qurun ketiga mengatakan:
أبو عبد الرحمن عبد الله بن يحيى بن المبارك [ت237هـ]، قال في كتابه “غريب القرءان وتفسيره”
@ilhaam_fa ما نصه: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى } [سورة طه:5] استوى: استولى” اهـ
Semoga bermanfaat 🙏🏿🌹

Loading suggestions...