Ave Neohistorian!
Pada masa keemasan Kerajaan Sunda di abad ke-16, bahasa Sunda masih sangat egaliter. Hal itu nampak dari naskah-naskah yang ditulis pada zaman tersebut seperti Sanghyang Siksakandang ing Karesian (1518) dan Carita Parahyangan (sekitar 1580).
Pada masa keemasan Kerajaan Sunda di abad ke-16, bahasa Sunda masih sangat egaliter. Hal itu nampak dari naskah-naskah yang ditulis pada zaman tersebut seperti Sanghyang Siksakandang ing Karesian (1518) dan Carita Parahyangan (sekitar 1580).
Bahkan Bujangga Manik, seorang bangsawan Sunda, memakai kata 'Aing' ketika bicara dengan ibunya.
Akan tetapi semua berubah ketika pendiri Mataram, Danang Sutawijaya menguasai Ciamis dan Dayeuhluhur pada 1595. Sesudahnya, penguasa Sumedang, Aria Suriadiwangsa mengakui kekuasaan (overlordship) Penguasa Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1620.
Akibatnya, bahasa Jawa Mataraman menjadi bahasa penghubung antara Penguasa Mataram dan Menak Sunda yang ikut mengadopsi budaya feodal ala Mataram termasuk cara berkomunikasi dengan kaum cacah kuricah (rakyat jelata).
Bahasa Sunda Priangan pun menjadi berkasta-kasta seperti bahasa lemes pisan (halus sekali), lemes (halus), sedeng (sedang), kasar (kasar), dan kasar pisan (kasar sekali). Bahasa yang halus digunakan kepada penguasa dan kerabat yang lebih tua.
Sistem yang dikenal sebagai Undak-Usuk Bahasa Sunda (UUBS) ini kemudian diadopsi oleh pemerintah Hindia Belanda yang mengajarkan lewat sekolah rakyat cara berbahasa Sunda 'secara benar'.
Uniknya, justru Kadipaten Cianjur yang para menak dan rakyatnya dikenal sebagai pengguna bahasa Sunda paling lemes (halus) di wilayah Priangan.
Bahkan Cianjur dipercaya oleh Belanda sebagai tempat pembuangan pahlawan lokal seperti Pangeran Hidayatullah (Banjar), Sultan Ahmad Najmuddin II (Palembang) dan Datuk Badiuzzaman Surbakti (Tanah Karo).
Di sisi lain, masih ada penutur bahasa Sunda di Cirebon yang masih menggunakan bahasa Sunda lama, lalu penutur bahasa Sunda di Bogor, Karawang dan Banten masih bebas dari pengaruh Mataram dan tidak mengikuti kaidah UUBS.
Daerah-daerah ini dikenal sebagai penutur "bahasa wewengkon" (bahasa wilayah) Sunda.
Referensi:
Arief Wibowo. 2022. Peradaban Sunda kuno: sebuah gambaran utuh. Heryapedia
Dodong Djiwapradja. 1987. Polemik undak usuk Basa Sunda. Mangle Panglipur
Mikihiro Moriyama. 2005. Semangat baru: kolonialisme, budaya cetak, & kesastraan Sunda abad ke-19. KPG
Arief Wibowo. 2022. Peradaban Sunda kuno: sebuah gambaran utuh. Heryapedia
Dodong Djiwapradja. 1987. Polemik undak usuk Basa Sunda. Mangle Panglipur
Mikihiro Moriyama. 2005. Semangat baru: kolonialisme, budaya cetak, & kesastraan Sunda abad ke-19. KPG
Loading suggestions...