Kebiasaan Dai-Dai Wahabi “Menyunati” Hadits
Ada satu hadits dari jalur periwayatan Iman an Nasai' yang lahir 215 H. 11 tahun setelah Imam Safe'i wafat" berikut ini :
Ada satu hadits dari jalur periwayatan Iman an Nasai' yang lahir 215 H. 11 tahun setelah Imam Safe'i wafat" berikut ini :
ﻭﻛﻞ ﻣﺤْﺪﺛﺔ ﺑﺪْﻋﺔ ﻭﻛﻞ ﺑﺪْﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ , ﻭﻛﻞ ﺿﻼﻟﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻨار
“Setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”
“Setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”
Hadits tersebut bukanlah hadits yang utuh, tetapi sengaja di potong oleh Dai-Dai Wahabi pada bagian akhir dari kalimat panjang yang sebelumnya.
Tujuan mereka “Menyunati” hadits hanya bagian akhir hadits, hanya untk melontarkan tuduhan Bid’ah sebagai cara ampuh mengkafirkan muslim Ahlus sunnah wal jamaah yang selalu rutin melakukan amaliyah yang mereka tuduh tidak ada dalilnya.
Berikut Hadits lengkapnya :
ﻣﻦْ ﻳﻬْﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻼ ﻣﻀﻞ ﻟﻪ , ﻭﻣن ﻳﻀْﻠﻞْ ﻓﻼ ﻫﺎﺩﻱ ﻟﻪ , ﺇﻥ ﺃﺻﺪﻕ ﺍﻟْﺤﺪﻳﺚ ﻛﺘﺎﺏ ﺍلله , ﻭﺃﺣْﺴﻦ ﺍﻟْﻬﺪْﻱ ﻫﺪْﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ عليه ﻭﺳﻠﻢ , ﻭﺷﺮ اﻷﻣوﺭ
ﻣﻦْ ﻳﻬْﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻼ ﻣﻀﻞ ﻟﻪ , ﻭﻣن ﻳﻀْﻠﻞْ ﻓﻼ ﻫﺎﺩﻱ ﻟﻪ , ﺇﻥ ﺃﺻﺪﻕ ﺍﻟْﺤﺪﻳﺚ ﻛﺘﺎﺏ ﺍلله , ﻭﺃﺣْﺴﻦ ﺍﻟْﻬﺪْﻱ ﻫﺪْﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ عليه ﻭﺳﻠﻢ , ﻭﺷﺮ اﻷﻣوﺭ
ﻣﺤْﺪﺛاﺗﻬﺎ , ﻭﻛﻞ ﻣﺤْﺪﺛﺔ ﺑﺪْﻋﺔ , ﻭﻛﻞ ﺑﺪْﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ , ﻭﻛﻞ ضﻼﻟﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya.
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya.
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”
📚an-Nasai'
📚an-Nasai'
Dikarenakan hanya "potongan bagian akhir hadits saja", yang Wahabi jadikan fitnah, maka ketika ditanyakan tentang apa yang dimaksud dengan محدثة Muhdast (bc-perkara) serta ظلالة (bc-sesat) dari hadits tersebut? Tentu tidak akan ketemu jawabannya.
Akan tetapi berbeda jika haditsnya dikutip secara utuh, ketika ditanya tentang apa yang dimaksud dengan محدثة serta ظلالة dari hadits tsb, tentu langsung dapat dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan MUHDATS (perkara) yang DLOLAL (sesat) adalah;
"segala perkara baru yang diada-adakan yang menyelisihi atau bertentangan dengan "Kitabullah" al Qur’an dan yang menyelisihi atau bertentangan dengan Rasulullah SAW (al Hadits)"
Dari jawaban yang lengkap tsb secara otomatis juga dpat langsung difahami bahwa:
Perkara MUHDATS yang tidak menyelisihi atau tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan tidak menyelisihi atau tidak bertentangan dengan al-Hadits, maka TIDAK TERMASUK perkara baru yang DLOLAL (sesat).
Perkara MUHDATS yang tidak menyelisihi atau tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan tidak menyelisihi atau tidak bertentangan dengan al-Hadits, maka TIDAK TERMASUK perkara baru yang DLOLAL (sesat).
Sehingga bisa disimpulkan bahwa yg dimaksud sebagai BID’AH DLOLALAH yg masuk neraka haruslah "PERKARA BARU yan BERTENTANGAN atau MENYELISIHI Al-QUR'AN dan Hadits saja".
BUKAN SETIAP perkara baru yang TIDAK bertentangan atau TIDAK menyelisihi Al-Qur’an dan Hadits.
BUKAN SETIAP perkara baru yang TIDAK bertentangan atau TIDAK menyelisihi Al-Qur’an dan Hadits.
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :
الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،
الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،
وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam :
Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar,
Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam :
Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar,
perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat (Bid’ah Dholalah)
Kedua: Perkara baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).
Kedua: Perkara baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).
Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469
Mereka (Wahabi) menolak Tahlilan, Maulid dan amaliyah Ahlus sunnah wal jamaah lainnya, hanya karena tidak mengerti hukum qiyash
Mereka (Wahabi) menolak Tahlilan, Maulid dan amaliyah Ahlus sunnah wal jamaah lainnya, hanya karena tidak mengerti hukum qiyash
Mereka menolak qiyash hanya karena tidak mengerti cara pengambilan hukum dalam agama.
Dan mereka tidak mengerti bahwa landasan hukum dalam agama, seperti dalam mazhab Syafi'iyah ada 4 landasan hukum
1. Alqur-an
2. Hadits
3. Ijma'
4. Qiyash
Dan mereka tidak mengerti bahwa landasan hukum dalam agama, seperti dalam mazhab Syafi'iyah ada 4 landasan hukum
1. Alqur-an
2. Hadits
3. Ijma'
4. Qiyash
Inilah yang tidak dipahami oleh Dai-Dai Wahabi yang anti tahlilan, maulidan dll.
Apabila tidak dijumpai hukum dalam Al-qur-an maka dicari pada hadits
Apabila tidak dijumpai hukum dalam hadits maka dicari pada (ijma') kesepakatan ulama.
Apabila tidak dijumpai hukum dalam Al-qur-an maka dicari pada hadits
Apabila tidak dijumpai hukum dalam hadits maka dicari pada (ijma') kesepakatan ulama.
Apabila tidak ditemui juga pada ijma' maka dengan Qiyash.
Wahabi tidak mengerti apa itu qiyash, ketika ulama Ahlus sunnah menjelaskan bahwa tahlilan itu berdasarkan Qiyash mereka makin menampakkan kejahilannya dengan menanyakan dalil Al-qur-an dan haditsnya.
Wahabi tidak mengerti apa itu qiyash, ketika ulama Ahlus sunnah menjelaskan bahwa tahlilan itu berdasarkan Qiyash mereka makin menampakkan kejahilannya dengan menanyakan dalil Al-qur-an dan haditsnya.
Kalau sudah ada pada Alquran tentunya tidak sampai menggunakan Qiyash.
Inilah bukti kedangkalan Wahabi dalam berfikir dan dalam beragama.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;
"Bahwa akan muncul anak-anak muda yang dangkal cara berfikirnya”
Semoga bermanfaat🙏🏿🌹
Inilah bukti kedangkalan Wahabi dalam berfikir dan dalam beragama.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;
"Bahwa akan muncul anak-anak muda yang dangkal cara berfikirnya”
Semoga bermanfaat🙏🏿🌹
Loading suggestions...