Generasi Shalahuddin
Generasi Shalahuddin

@GenSaladin

10 Tweets 1 reads Apr 06, 2023
Sadarkah bahwa aku, kamu; kita semua, adalah generasi yang belum pernah melihat Al Aqsha merdeka?
Orang yang lahir sekitar tahun 1917 barangkali adalah generasi yang tidak pernah melihat Al Aqsha merdeka dalam hidupnya.
Jangankan yang lahir 1917, yang lahir tahun 95 ke atas β€”millenialβ€” pun apalagi; baru lahir ke dunia, sudah melihat pencaplokan Masjid suci Al Aqsha.
Kita adalah generasi yang belum pernah tahu rasanya melihat negeri Islam bebas seutuhnya. Kita adalah generasi yang mata dan telinganya, bacaannya dan yang didengarnya melulu berita sedih tentang kekalahan dan kejatuhan.
Selama Umat Islam berdiri, Al Aqsha selalu jadi ukuran jaya dan jatuhnya Umat. Ia seperti termometer. Surat Yasin tertulis di dinding Al Aqsha seakan menyapa, "sebagaimana Yasin adalah jantungnya Al Qur'an, Al Aqsha adalah jantungnya Umat Islam sedunia."
Sedih? Merajuk? Mau bagaimana lagi, sudah qadarullah. Sudah skema takdir Allah menitahkan kita hadir di zaman yang keras ini.
Logika sederhana kita akan berkata bahwa kita adalah generasi korban, generasi tumbal yang tak pernah melihat keadaan kita baik-baik saja.
Akhirnya memang, mindset berpikir kita terlanjur mengira, "Oh, Umat Islam ga keren. Korban penjajahan, bukan aktor peradaban."
Namun saya selalu suka untuk berpikir dengan logika terbalik. Di setiap jatuh, pasti ada bangkit. Gelombang turun adalah syarat gelombang naik.
Kita satu rasa dengan Rasulullah ο·Ί yang tak pernah melihat Al Aqsha merdeka selama hidupnya.
Kita satu rasa dengan Umar bin Khattab yang ketika lahirnya, ia mendapati Al Aqsha hanyalah komplek datar yang diabaikan oleh Kekaisaran Romawi yang menjajahnya.
Kita bahkan juga satu narasi dengan Shalahuddin Al Ayyubi, yang masa kecilnya selalu identik dengan berita kafilah haji dibantai, Al Aqsha dijadikan tempat sampah kota dan kandang kuda.
Dan justru nama-nama hebat itulah yang Allah takdirkan sebagai Pembebas Masjid Al Aqsha.
Mereka menjadi pembebas karena memang Al Aqsha dijajah. Tidak ada namanya agenda pembebasan kalau Al Aqsha tidak kenapa-napa.
Dan itulah zaman yang sekarang sedang kita lakoni. Zaman berat selalu melahirkan pemimpin yang kuat. Pemimpin kuat selalu melahirkan zaman yang hebat.
Seperti itu cara kerja sejarah.
Begitulah kira-kira skenario masa depan kita. Di hadapan kita ada potensi agenda peradaban yang besar. Kita ada di hadapan dua pilihan takdir; menjadi pembebas Al Aqsha atau jadi generasi yang memperlambat pembebasannya. Semua, kamu yang tentukan

Loading suggestions...