Petisi semacam ini sangat mengejutkan, karena justru disuarakan oleh para pelopor perusahaan Teknologi digital. Meskipun tidak sedkit yang meragukan petisi ini sebagai dorongan moral dan tanggung jawab.
Namun demikian, Kecerdsan Buatan (KB) / AI selalu dihantui dua pertanyaan. 1) Jika ia akan menjadi pesaing kecerdasan manusia, bagamana (how) ia melakukannya? 2) Jika ada batasan etik dalam KB, apa jaminannya?
Pertanyaan ini juga berlaku jika AI diterapkan dalam pendidikan. Namun setidaknya AI dalam dunia pendidikan telah menunjukan separuh wajahnya, karena pandemik Cvd-19 lalu kalangan pendidik melakukan eksodus ke dunia digital
Yang sudah nampak:
penggunaan e-proctoring yg kontrversial, masih diskriminasi rasial, gagal bekerja dengan baik u/ mencegah peserta didik mengikuti ujian & mmperburuk mslh kesehatan mental, smntr berdampak kecil pada kecurangan atau pencapaian (Brown 2020; Conijn et al.2022)
penggunaan e-proctoring yg kontrversial, masih diskriminasi rasial, gagal bekerja dengan baik u/ mencegah peserta didik mengikuti ujian & mmperburuk mslh kesehatan mental, smntr berdampak kecil pada kecurangan atau pencapaian (Brown 2020; Conijn et al.2022)
Dalam buku ini, disebut bahwa AI untuk Pendidikan (AIED) membawa ambisi yang selama 100 tahun dipendam. Yaitu upaya personalisasi pembelajaran.
100 th terakhir, setiap perkembangan teknologi menghadirkan mitos, bahwa teknologi2 tersebut akan segera merubah pendidikan secara signifikan.
Saat Radio ditemukan, pd 1930an lahir gagasan agar radio digunakan disetiap kelas di Amerika, sehingga satu pengajar berkualitas bisa dirasakan banyak kelas lintas sekolah. Yg terjadi: radio lbh sering dipkai untuk hiburan dan pidato politik mendukung perang dunia.
Saat televisi mncpai puncak popularitas tahun 1960an, muncul gagasan yang sama.
Sekitar 120 sekolah dan Univrsts di 40 negara bagian AS memasang TV di kls mereka. Lahirlah Instructional Television (ITV) dan Educational Television (ETV) (Taggart, 2007).
Seharusnya lbh sukses (?)
Sekitar 120 sekolah dan Univrsts di 40 negara bagian AS memasang TV di kls mereka. Lahirlah Instructional Television (ITV) dan Educational Television (ETV) (Taggart, 2007).
Seharusnya lbh sukses (?)
Menjelang tahun 1980an, teknologi komputer dipercaya akan merubah semua unsur dalam pendidikan. Komputer menyatukan semua kualitas teknologi sebelumnya; audiovisual, interaktif, bisa diprogram, dan hampir bisa membuat semua program yang kita harapkan.
Namun pada kenyataanya baik radio, TV dan komputer lebih sering merubah banyak bidang dan bidang pendidikan selalu diposisi terakhir berubah. Ide "personifikasi" pembelajaran belum pernah mencapai janjinya pada pendidikan
Kenyataannya, belajar selalu membutuhkan sekolah, kelas dan guru. Namun ambisi memindahkan guru, kelas dan sekolah ke rumah sebagai mana Personal Computer (PC) dengan semangat personifikasi serta mitos teknologi merevolusionerkan pendidikan dan pengajaran tetap dipertahankan
Salah satu komentar perusahaan Edtech:
"Jika kami dapat memiliki rekomendasi yang dipersonalisasi di Netflix, mengapa kami tidak dapat melakukannya di bidang pendidikan?
"Jika kami dapat memiliki rekomendasi yang dipersonalisasi di Netflix, mengapa kami tidak dapat melakukannya di bidang pendidikan?
"Seperti halnya Anda mengonsumsi film melalui Netflix, atau membeli layanan melalui Amazon, kami ingin pendidikan disampaikan melalui pengalaman pengguna tunggal yang berkualitas, tetap tersedia untuk semua usia dan tahapan pelajar."
Ketika pandemik (dianggap) berakhir, banyak perusahaan Edtech gulung tikar, dan sekolah hanya kembali seperti semula. Beragam aplikasi digital, kembali pasif sebagaimana kertas dan pulpen.
Ralat: intelligence
Loading suggestions...