Neo Historia Indonesia
Neo Historia Indonesia

@neohistoria_id

25 Tweets 483 reads Jun 22, 2023
Kisah cinta Soekarno, khilaf selingkuh hingga berkali-kali.
{sebuah utas}
Presiden, Proklamator sekaligus Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Ir. Soekarno memiliki kisah yang luar biasa dalam aspek percintaan. Semua itu ditunjang oleh kharisma, ketampanan dan kecerdasan beliau yang luar biasa, yang akhirnya membuat beliau khilaf selingkuh berkali-kali.
Wanita pertama yang diperistri Soekarno adalah putri dari mentor sekaligus bapak kosnya, HOS Tjokroaminoto yakni Oetari Tjokroaminoto. Soekarno yang menikahi Oetari di Surabaya kemudian memboyong Oetari ketika akan berkuliah di Bandung.
Karena Soekarno adalah menantu Tjokroaminoto yang menjadi pemimpin Sarekat Islam (SI), ia kemudian diterima ngekos di rumah aktivis SI yakni Haji Sanusi. Akan tetapi, hubungan Soekarno dan Oetari sesungguhnya bagaikan kakak dan adik saja.
Di rumah kos baru itu, Soekarno akrab dengan Isteri Pak Sanusi yakni Inggit Garnasih yang hubungan rumah tangganya kemudian menjadi dingin karena Pak Sanusi terlalu sibuk bekerja dan berorganisasi.
Dalam wawancara dengan Cindy Adams, Bung Karno dengan jujur mengakui, β€œTiba-tiba ia berada dalam rengkuhanku, Aku menciumnya. Dia menciumku. Lalu aku menciumnya kembali dan kami berdua terperangkap dalam rasa cinta..."
"...Ini semua terjadi selagi ia masih istri Pak Sanusi dan aku suami dari Oetari".
Akhirnya demi kebaikan masing-masing, Inggit bercerai dari Pak Sanusi dan Soekarno bercerai dari Oetari. Bung Karno pun menikah dengan Inggit yang berusia tiga belas tahun lebih tua.
Inggit lah yang menemani Bung Karno melewati masa-masa sulit seperti pemenjaraan di Sukamiskin dan pembuangan ke NTT.
Hubungan Inggit dan Soekarno mendapat ujian ketika mereka dipindahkan ke Bengkulu di mana beliau berkenalan dengan Fatmawati yang dianggap sebagai anak oleh Inggit.
Bung Karno kemudian berniat menikahi Fatmawati dan mengatakan pada Inggit, seperti yang dicatat oleh Cindy Adams, "Aku tidak bermaksud menyingkirkanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan paling atas sebagai istri yang pertama."
Namun Inggit tak mau dipoligami dan ia memutuskan bercerai dengan Soekarno setelah mereka dipindahkan ke Jakarta dimana Soekarno menikahi Fatmawati pada tahun 1943.
Inggit kemudian dipulangkan ke Bandung dan disana ia telah ditunggu oleh Pak Sanusi, mantan suaminya yang kini menganggapnya sebagai adik dan sahabat.
Soekarno sendiri pada tahun 1960 sempat pergi ke Bandung untuk meminta maaf pada Inggit namun Inggit berkata, "Sudahlah Koes, tidak perlu minta maaf, pimpinlah negara ini seperti yang pernah kita mimpikan bersama di rumah ini."
Beberapa tahun kemudian, setelah Fatmawati menjadi Ibu Negara, Soekarno kembali jatuh cinta pada seorang perempuan Jawa kelahiran Ponorogo bernama Hartini. Soekarno berkata, "Aku mencintaimu tapi aku juga mencintai Hartini."
Akan tetapi Fatmawati juga menolak dipoligami dan ingin diceraikan. Niat Soekarno untuk berpoligami juga mendapat cercaan dari para perempuan yang tergabung dam Organisasi Persit, Kowani, dan Perwari.
Menurut Soe Hok Gie, setelah pernikahan dengan Hartini, Soekarno mulai memiliki banyak isteri.
Seperti yang ia katakan:
β€œIa (Soekarno) terus menerus di-supply dengan wanita-wanita cantik yang lihai. Hartini (Isteri Keempat Bung Karno) muncul (siapa yang mempertemukannya?)
Sejak itu wanita-wanita cantik keluar masuk istana: Baby Huwae, Ariati (Isteri Keenam Bung Karno), Yurike Sanger (Isteri Ketujuh Bung Karno), Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi (Isteri kedelapan Bung Karno), dan lain-lainnya.
Seolah-olah Bung Karno mau dialihkan hidupnya dari insan yang cinta tanah air menjadi kaisar-kaisar yang punya harem."
Fatmawati sendiri setelah Soekarno menikahi Hartini, Haryati, Dewi, dll akhirnya menemui Inggit di Bandung pada tahun 7 Februari 1980 untuk meminta maaf.
Inggit berkata, "Ibu adalah lautan maaf, tapi kedepannya, jangan mencubit bila tak ingin dicubit".
Referensi:
Arifin Suryo Nugroho. Fatmawati Sukarno: The First Lady
Lambert Giebels, Soekarno : Biografi 1901-1950.
Reni Nuryanti. Inggit Garnasih: Perempuan dalam Hidup Soekarno
Fatmawati. Catatan Kecil Bersama Bung Karno. Sinar Harapan, 1983
M. Yuanda Zara. Ratna Sari Dewi Sukarno: Sakura di tengah prahara. Ombak, 2010
Rachmad Darsono. Bidadari-bidadari di Sekitar Bung Karno. Buku biru, 2014
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, 1989

Loading suggestions...