Menurut psikoterapis Esther Perel, suatu tindakan disebut selingkuh jika memenuhi satu atau lebih dari tiga syarat berikut: secrecy, sexual alchemy, emotional involvement.
Sedangkan sexual alchemy bukan hanya tentang sexual intercourse ya. Ini bisa juga tentang ketertarikan secara seksual, membayangkan akan perhatian dan kasih sayang sebagai pasangan romantis.
Terakhir adalah emotional involvement, yakni keterlibatan perasaan yang intens dan emosional, rasa aman, dan sebagainya yang bikin dua orang merasa terikat, dekat, dan ditemani.
Kadang ini bikin kita bingung karena beberapa sikap pasangan tampak tidak seperti selingkuh, tetapi intuisi kita berkata lain.
Ketika kita berkomitmen dengan satu orang sebagai pasangan secara sehat, tentu akan ada batasan antara kita dan orang lain di luar hubungan.
Misalnya, apakah chat dengan mantan termasuk berselingkuh? Kalau sering diajak pulang bareng teman sekantor, itu berselingkuh atau bukan? Kalau nonton film berdua? Kalau video call berdua? Tidak ada jawaban pasti.
Lantas apa tanda-tanda orang melakukan melakukan micro cheating? Nah simak tweet selanjutnya baik-baik yaaak
INGAT!
𝐒𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐢𝐜𝐫𝐨 𝐜𝐡𝐞𝐚𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐤 “𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚 𝐚𝐣𝐚” 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐦𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧.
𝐒𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐢𝐜𝐫𝐨 𝐜𝐡𝐞𝐚𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐤 “𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚 𝐚𝐣𝐚” 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐦𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧.
Misalnya kita selalu membalas IG Story si X, berlanjut DM, lalu curhat via Whatsapp dan melakukan video call. Kayaknya seru aja gitu kalau ngobrol sama si X, meskipun tidak ada niat selingkuh, tetapi atensi dan emosi kita yang terpaut pada si X ini berpotensi jadi selingkuh.
Jadi kayak kebalik nih. Kita merahasiakan pasangan agar orang lain melihat kita available. Tapi ingat, ini balik lagi ke niatnya, ya.
Ingatlah jika kita masih kerap kepikiran mantan, itu bisa membawa masalah ke hubungan yang baru. Kita jadi tidak mindful menjalani hubungan karena atensi dan emosi kita masih terjebak ke kisah yang lama.
Jadi kayak kebalik nih. Kita merahasiakan pasangan agar orang lain melihat kita available. Tapi ingat, ini balik lagi ke niatnya, ya
Kita jadi tidak mindful menjalani hubungan karena atensi dan emosi kita masih terjebak ke kisah yang lama. Apa pun emosi yang kita rasakan terhadap mantan (sayang atau benci), itu bisa berpengaruh pada diri dan relasi saat ini.
Jadi sebenarnya, micro cheating memang sulit dideteksi karena terkadang kita tidak tahu apakah perilaku tersebut sudah melanggar batas atau belum.
Oleh karena itu, untuk kesekian kalinya, inilah pentingnya mengomunikasikan batasan yang diyakini ke pasangan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam hubungan kalian.
Selagi ada keraguan sekecil apa pun, daripada berasumsi ada baiknya untuk tetap dikomunikasikan ke pasangan. Sebab biasanya, keraguan datang karena kita berpikir bahwa mungkin sebuah tindakan berpotensi jadi masalah hubungan.
Utas ini diambil dari buku pertama @disyarinda berjudul Love, Explained.
Loading suggestions...