Ave Neohistorian!
Orang Kristen percaya bahwa ajaran Kristen adalah sebuah penyempurna dan pungkasan dari Perjanjian Lama. Segala sesuatu yang ada di Perjanjian Lama telah digenapi dan sempurna oleh Sang Kristus.
Orang Kristen percaya bahwa ajaran Kristen adalah sebuah penyempurna dan pungkasan dari Perjanjian Lama. Segala sesuatu yang ada di Perjanjian Lama telah digenapi dan sempurna oleh Sang Kristus.
Sejak awal mula, baik Gereja Perdana bahkan Para Rasul Suci sendiri percaya dan mengimani adalah Kristus adalah Sang Inkarnasi Firman Allah sendiri.
Walaupun sebutan Tritunggal (atau Trinitas) baru muncul kemudian, pengajaran bahwa Allah itu Tritunggal telah dan terus diajarkan oleh orang-orang Kristen sejati sejak awal.
Tak ada keraguan sedikitpun akan Iman Suci ini di antara Para Rasul Kristus (yaitu para murid pilihan Kristus sendiri), dan juga di Gereja Perdana yaitu mereka yang menerima pengajaran langsung dari murid-murid Kristus.
Sekali lagi, Keilahian Kristus –bahwa Yesus Kristus adalah Allah- bukanlah inovasi sesat dari Rasul Paulus yang Suci, melainkan ajaran para Rasul yang didapatkan langsung dari Kristus sendiri.
Semua kesatuan iman ini terusik, ketika ada seorang imam yang mengajarkan suatu konsep kristologi yang baru dan asing bagi Gereja Perdana.
Dia menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah yang diperanakkan oleh Allah Bapa yang pada suatu titik tertentu berbeda dari Sang Bapa, dan oleh karena itu, pada titik tersebut Kristus lebih rendah derajatnya daripada Sang Bapa.
Dia adalah Areios atau dunia mengenalnya sebagai Arius, seorang imam di Aleksandria di Mesir. Dia menentang pengajaran rasuliah yang diterima oleh para uskup. Dia menentang Uskup Aleksander dari Aleksandria, penerus Rasul Markus yang Suci.
Imam dan umat mulai terbelah dan bingung. Akhirnya, inovasi iman –atau bidah- ini membuat Gereja harus menyatakan dengan tegas tentang mana Iman yang sudah diajarkan oleh Kristus sendiri dan mana yang hanya penemuan sesat agar umat tidak dibingungkan dan disesatkan.
Para uskup dari Gereja Barat dan Timur dari seluruh dunia berkumpul untuk mendengarkan pendapat dari umat Kristen yang tetap memegang Iman Sejati dari Gereja Perdana, dan juga, pendukung dari ajaran Arian.
Hal ini dapat dilihat dari Riwayat Hidup Konstantinus 3.6 karya Eusebius Pamphilius (atau Eusebius dari Kaisarea) dari tahun 338, yang menyatakan kalau "ia [Konstantinus] mengundang [untuk menghadiri]...
...suatu Konsili Ekumenis" (bahasa Yunani Kuno: σύνοδον οἰκουμενικὴν συνεκρότει /synodon oikoumenikēn synekrotei/).
Sedikit informasi, bahwa perlu diingat pada tahun pelaksanaan konsili ini, Kaisar Konstantinus masih kafir. Konstantinus tidak bertujuan untuk membela Kristen, tapi untuk mencari kebenaran bukan pembenaran.
Oleh karena itu Konstantinus tidak memaksakan atau memengaruhi hasil konsili ini. Beliau belum dibaptis menjadi Kristen. Beliau belum dibaptis karena beliau belum merasa layak dan menunda sampai dirinya benar-benar telah meninggalkan dosa-dosanya dalam pertobatan.
Beliau ingin sekali dibaptis di Sungai Yordan. Namun sayangnya, di akhir hidupnya beliau dibaptis oleh seorang uskup yang tercemar ajaran Arianisme yang bernama Eusebius dari Nikomedia.
Uskup Hosius dari Corduba (Sanctus Hosius Cordubensis) memimpin konsili yang dilakukan pada Masa Paskah AD 325 ini. Uskup Hosius berada di bawah Patriarkat Roma (yang dipimpin Paus Roma).
Konsili dilakukan di Nikea karena wilayah ini adalah suatu tempat yang cukup mudah diakses oleh banyak delegasi, khususnya mereka yang datang dari Asia Kecil, Georgia, Armenia, Siria, Palestina, Mesir, Yunani, dan Trakia.
Menurut perhitungan Eusebius dari Kaisarea, jumlah peserta lebih dari 250 uskup, sementara perhitungan Athanasius dari Aleksandria adalah 318 uskup, dan Eustasius dari Antiokhia memperkirakan sekitar 270 uskup (ketiganya hadir di konsili ini).
Sokrates Skolastikus mencatat kehadiran lebih dari 300 uskup, sementara Evagrius, Hilarius dari Poitiers, Hieronimus, Dionysius Exiguus, dan Rufinus mencatat ada 318 uskup.
Jumlah 318 uskup ini terlestarikan dalam tradisi Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Koptik Aleksandria.
Mayoritas uskup yang hadir berasal dari Timur, tapi, secara keseluruhan delegasi datang dari seluruh wilayah Romawi termasuk wilayah berbahasa Latin yang mengutus lima wakil.
Sekitar 22 uskup dalam konsili itu hadir sebagai pendukung Arius dan dipimpin oleh Eusebius dari Nikomedia. Namun ketika beberapa bagian yang lebih mengejutkan dari tulisan-tulisannya dibacakan, hampir semuanya dipandang sebagai penghujatan.
Di sini terlihat banyak orang yang pada awalnya menerima pemikiran Arius sebenarnya belum melihat ajaran Arius secara penuh, sehingga setelah mereka mempelajari ajaran Arius secara utuh, mereka menarik dukungan mereka seperti Uskup Teognis dari Nicea dan Maris dari Kalsedon.
Perdebatan dan diskusi Arian pada konsili ini berlangsung dari 20 Mei 325 sampai sekitar 19 Juni 325. Perdebatan ini terkait dengan pembahasan perbedaan antara kata "dilahirkan" atau "diciptakan" dan "diperanakkan".
Kaum Arian secara sepele menyatakan istilah-istilah tersebut sama saja, sementara para pengikut Aleksander dari Aleksandria membedakannya.
Kosakata Yunani seperti "esensi" (ousia), "substansi" (hipostasis), "kodrat" (physis), "pribadi" (prosopon) mengandung beragam makna yang berasal dari para filsuf pra-Kristiani,
yang dapat menimbulkan kesalahpahaman bila tidak diterangkan sehingga pada dasarnya, Arius tidak paham dengan makna kristiani dari istilah-istilah tersebut.
Perdebatan ini juga terjadi karena Arius yang menyatakan bahwa Yesus Sang Putra Allah diciptakan sebagai suatu tindakan dari kehendak Bapa.
Oleh karenanya Putra merupakan makhluk ciptaan Allah yang pertama sebelum segala masa, yang diperanakkan langsung dari yang tak terbatas yaitu Allah yang kekal. Arius mengajarkan bahwa Yesus memang diciptakan sebelum segala masa, tapi memiliki titik awal penciptaan.
Oleh karena itu, menurut kaum Arian, hanya Putra Allah saja yang secara langsung diciptakan dan diperanakkan dari Allah; karena itu terdapat suatu titik waktu di mana Ia tidak memiliki eksistensi.
Dari situ, pengikut ajaran Arius percaya bahwa keilahian Bapa lebih besar daripada Yesus.
Gereja Perdana mengajarkan bahwa Firman "diperanakkan” dalam kekekalan sehingga dengan demikian Dia tidak memiliki titik awal mula.
Pandangan ini dapat dijelaskan dengan analogi sederhana tentang kesatuan antara manusia dengan pikiran manusia itu sendiri untuk dapat disebut sebagai manusia yang hidup dan sadar.
Kenapa harus analogi manusia yang hidup dan sadar? Karena Allah kita itu Allah yang Hidup dan Maha Segalanya, bukan berhala mati yang disembah orang-orang kafir.
Mari berpikir: Pikiran manusia muncul (atau dalam terminologi Kristen digunakan kata “diperanakkan”) dari manusia itu. Walaupun begitu, tidak ada titik waktu dimana si manusia dan pikiran manusia itu terpisah, bukan?
Apabila keterpisahaan antara manusia dengan pikirannya itu mungkin, layakkah kita menyatakan bahwa manusia tersebut eksis sebagai manusia hidup? Manusia hidup dan sadar dengan pikirannya, kontrol kesadaran atas eksistensinya sebagai manusia.
Dengan kata lain, bisakah seorang manusia eksis tanpa pikirannya? Dengan demikian, manusia tidak dapat dikatakan eksis sebagai manusia tanpa pikiran (termasuk kesadaran logisnya), kan? Manusia dan pikiran manusia itu selalu ada ketika ia hidup dan sadar.
Tak terpisahkan dan terkait satu sama lain. Sehingga di sini jelas, manusia itu eksis sebagai manusia yang hidup dan sadar ketika dia memiliki kesatuan lengkap: Manusia, Pikiran Manusia, dan Roh Manusia.
Tanpa roh, manusia hanya benda mati, sehingga dia tak eksis sebagai manusia hidup. Tanpa pikiran manusia, manusia tidak melakukan apa-apa.
Mereka yang memegang ajaran Gereja Perdana dan menentang Arius ini meyakini bahwa pandangan Arian menghancurkan kesatuan Kebapaan, dan menjadikan Putra tidak setara dengan Bapa.
Mereka menegaskan bahwa pandangan semacam itu bertentangan dengan kata-kata dalam Kitab Suci seperti "Aku dan Bapa adalah satu" (bdk. Yoh. 10:30) dan "Firman itu adalah Allah" (Yoh 1:1) sebagaimana ayat-ayat tersebut dituliskan oleh para Rasul.
Sama seperti Athanasius, mereka menyatakan bahwa Putra tidak memiliki awal dan sama kekalnya dengan Bapa, dan setara dengan Allah dalam segala aspek.
Pada akhirnya, Iman Rasuliah lah yang menang. Konsili Nicea menyatakan dengan tegas bahwa Sang Putra adalah Allah, sama kekalnya dalam Bapa dan diperanakkan dari substansi-Nya yang sama,
dengan alasan bahwa doktrin tersebut merupakan ajaran Alkitabiah mengenai Putra serta keyakinan Kristiani sesuai Tradisi mengenai Putra yang diwariskan dari para Rasul.
Selain perkara Arian, Konsili Nikea I juga membahas tentang penentuan jatuhnya waktu Paskah, Skisma Meletian, dan beberapa hal terkait disiplin Gereja yang menghasilkan 20 kanon.
Menurut Warren H. Carroll, Ph.D.history, Konsili Nikea adalah langkah besar Gereja untuk memberikan pernyataan tegas dari doktrin yang diterimanya dari Para Rasul secara lebih tepat untuk menanggapi gangguan dari pemikiran sesat para bidat.
Artinya, konsili ini bukan mengangkat Yesus menjadi Tuhan melainkan menegaskan apa yang telah diajarkan oleh Gereja Perdana, oleh Para Rasul, dan oleh Kristus sendiri, bahwa Yesus Kristus adalah Allah Putra yang menjadi manusia demi keselamatan manusia.
Penulis: Erlambang Sarjono
Editor: Daniel Limantara
Referensi:
Tentang Konsili Nikea I dari The Catholic Encyclopedia, versi daring:
newadvent.org
Dari Eusebius dari Kaisarea
Schaff, Phillip. Nicene and Post Nicene Fathers (Series II Volume I)
ccel.org
Dari Theodoret
Schaff, Phillip. Nicene and Post Nicene Fathers (Series II Volume III)
ccel.org
Mengenai Sejarah Kekristenan juga dapat dibaca di:
Carroll, Warren (1 March 1987), The Building of Christendom, Front Royal: Christendom College Press, ISBN 978-0-93-188824-3
Teks Kredo Nikea. Versi daring:
earlychurchtexts.com
TEKS KREDO NIKEA DALAM BAHASA YUNANI, LATIN, DAN INGGRIS
Πιστεύομεν εἰς ἕνα Θεὸν Πατέρα παντοκράτορα, πάντων ὁρατῶν τε καὶ ἀοράτων ποιητήν•
Credimus in unum Deum patrem omnipotentem, omnium visibilium et invisibilium factorem.
We believe in one God, the Father Almighty, Maker of all things visible and invisible.
καὶ εἰς ἕνα Κύριον Ἰησοῦν Χριστόν τὸν Υἱὸν τοῦ Θεοῦ, γεννηθέντα ἐκ τοῦ Πατρὸς μονογενῆ, τοὐτέστιν ἐκ τῆς οὐσίας τοῦ Πατρός, Θεὸν ἐκ Θεοῦ, Φῶς ἐκ Φωτός, Θεὸν ἀληθινὸν ἐκ Θεοῦ ἀληθινοῦ, γεννηθέντα, οὐ ποιηθέντα, ὁμοούσιον τῷ Πατρί,
Et in unum Dominum nostrum Jesum Christum filium Dei, natum ex Patre unigenitum, hoc est, de substantia Patris, Deum ex Deo, lumen ex lumine, Deum verum de Deo vero, natum non factum, unius substantiae cum Patre, quod graece dicunt homousion,
And in one Lord Jesus Christ, the Son of God, begotten of the Father the only-begotten; that is, of the essence of the Father, God of God, Light of Light, very God of very God, begotten, not made, consubstantial with the Father;
δι' οὗ τὰ πάντα ἐγένετο, τά τε ἐν τῷ οὐρανῷ καὶ τὰ ἐν τῇ γῇ,
per quem omnia facta sunt quae in coelo et in terra,
By whom all things were made both in heaven and on earth;
τὸν δι' ἡμᾶς τοὺς ἀνθρώπους καὶ διὰ τὴν ἡμετέραν σωτηρίαν κατελθόντα καὶ σαρκωθέντα καὶ ἐνανθρωπήσαντα,
qui propter nostram salutem descendit, incarnatus est, et homo factus est,
Who for us men, and for our salvation, came down and was incarnate and was made man;
παθόντα, καὶ ἀναστάντα τῇ τρίτῃ ἡμέρᾳ, ἀνελθόντα εἰς τοὺς οὐρανούς,
et passus est, et resurrexit tertia die, et adscendit in coelos,
He suffered, and the third day he rose again, ascended into heaven;
ἐρχόμενον κρῖναι ζῶντας καὶ νεκρούς.
venturus judicare vivos et mortuos
From thence he shall come to judge the quick and the dead.
Καὶ εἰς τὸ Ἅγιον Πνεῦμα.
Et in Spiritum sanctum
And in the Holy Ghost.
Τοὺς δὲ λέγοντας, Ἦν ποτε ὅτε οὐκ ἦν, καὶ Πρὶν γεννηθῆναι οὐκ ἦν, καὶ ὅτι Ἐξ οὐκ ὄντων εγένετο, ἢ Ἐξ ἑτέρας ὑποστάσεως ἢ οὐσίας φάσκοντας εἶναι, ἢ κτιστόν, ἢ τρεπτόν, ἢ ἀλλοιωτὸν τὸν Υἱὸν τοῦ Θεοῦ, τούτους ἀναθεματίζει ἡ ἁγία καθολικὴ καὶ ἀποστολικὴ ἐκκλησία.
Eos autem, qui dicunt, Erat quando non erat, et ante quam nasceretur non erat, et quod de non exstantibus factus est, vel ex alia substantia aut essentia, dicentes convertibilem et demutabilem Deum:
hos anathematizat catholica Ecclesia.
But those who say: 'There was a time when he was not;' and 'He was not before he was made;' and 'He was made out of nothing,' or 'He is of another substance' or 'essence,' or 'The Son of God is created,' or 'changeable,' or 'alterable'— they are condemned by the holy catholic and apostolic Church.
Editor: Daniel Limantara
Referensi:
Tentang Konsili Nikea I dari The Catholic Encyclopedia, versi daring:
newadvent.org
Dari Eusebius dari Kaisarea
Schaff, Phillip. Nicene and Post Nicene Fathers (Series II Volume I)
ccel.org
Dari Theodoret
Schaff, Phillip. Nicene and Post Nicene Fathers (Series II Volume III)
ccel.org
Mengenai Sejarah Kekristenan juga dapat dibaca di:
Carroll, Warren (1 March 1987), The Building of Christendom, Front Royal: Christendom College Press, ISBN 978-0-93-188824-3
Teks Kredo Nikea. Versi daring:
earlychurchtexts.com
TEKS KREDO NIKEA DALAM BAHASA YUNANI, LATIN, DAN INGGRIS
Πιστεύομεν εἰς ἕνα Θεὸν Πατέρα παντοκράτορα, πάντων ὁρατῶν τε καὶ ἀοράτων ποιητήν•
Credimus in unum Deum patrem omnipotentem, omnium visibilium et invisibilium factorem.
We believe in one God, the Father Almighty, Maker of all things visible and invisible.
καὶ εἰς ἕνα Κύριον Ἰησοῦν Χριστόν τὸν Υἱὸν τοῦ Θεοῦ, γεννηθέντα ἐκ τοῦ Πατρὸς μονογενῆ, τοὐτέστιν ἐκ τῆς οὐσίας τοῦ Πατρός, Θεὸν ἐκ Θεοῦ, Φῶς ἐκ Φωτός, Θεὸν ἀληθινὸν ἐκ Θεοῦ ἀληθινοῦ, γεννηθέντα, οὐ ποιηθέντα, ὁμοούσιον τῷ Πατρί,
Et in unum Dominum nostrum Jesum Christum filium Dei, natum ex Patre unigenitum, hoc est, de substantia Patris, Deum ex Deo, lumen ex lumine, Deum verum de Deo vero, natum non factum, unius substantiae cum Patre, quod graece dicunt homousion,
And in one Lord Jesus Christ, the Son of God, begotten of the Father the only-begotten; that is, of the essence of the Father, God of God, Light of Light, very God of very God, begotten, not made, consubstantial with the Father;
δι' οὗ τὰ πάντα ἐγένετο, τά τε ἐν τῷ οὐρανῷ καὶ τὰ ἐν τῇ γῇ,
per quem omnia facta sunt quae in coelo et in terra,
By whom all things were made both in heaven and on earth;
τὸν δι' ἡμᾶς τοὺς ἀνθρώπους καὶ διὰ τὴν ἡμετέραν σωτηρίαν κατελθόντα καὶ σαρκωθέντα καὶ ἐνανθρωπήσαντα,
qui propter nostram salutem descendit, incarnatus est, et homo factus est,
Who for us men, and for our salvation, came down and was incarnate and was made man;
παθόντα, καὶ ἀναστάντα τῇ τρίτῃ ἡμέρᾳ, ἀνελθόντα εἰς τοὺς οὐρανούς,
et passus est, et resurrexit tertia die, et adscendit in coelos,
He suffered, and the third day he rose again, ascended into heaven;
ἐρχόμενον κρῖναι ζῶντας καὶ νεκρούς.
venturus judicare vivos et mortuos
From thence he shall come to judge the quick and the dead.
Καὶ εἰς τὸ Ἅγιον Πνεῦμα.
Et in Spiritum sanctum
And in the Holy Ghost.
Τοὺς δὲ λέγοντας, Ἦν ποτε ὅτε οὐκ ἦν, καὶ Πρὶν γεννηθῆναι οὐκ ἦν, καὶ ὅτι Ἐξ οὐκ ὄντων εγένετο, ἢ Ἐξ ἑτέρας ὑποστάσεως ἢ οὐσίας φάσκοντας εἶναι, ἢ κτιστόν, ἢ τρεπτόν, ἢ ἀλλοιωτὸν τὸν Υἱὸν τοῦ Θεοῦ, τούτους ἀναθεματίζει ἡ ἁγία καθολικὴ καὶ ἀποστολικὴ ἐκκλησία.
Eos autem, qui dicunt, Erat quando non erat, et ante quam nasceretur non erat, et quod de non exstantibus factus est, vel ex alia substantia aut essentia, dicentes convertibilem et demutabilem Deum:
hos anathematizat catholica Ecclesia.
But those who say: 'There was a time when he was not;' and 'He was not before he was made;' and 'He was made out of nothing,' or 'He is of another substance' or 'essence,' or 'The Son of God is created,' or 'changeable,' or 'alterable'— they are condemned by the holy catholic and apostolic Church.
Loading suggestions...