23 Tweets 33 reads Mar 17, 2024
[INDONESIA BERDARAH: PEMBAKARAN HIDUP-HIDUP 400 ORANG DALAM MALL KLENDER]
Dilanda kerusuhan, 1998 merupakan tahun kelam Indonesia.
Kematian 400 orang yang terjebak dalam sebuah mall terbakar di Jakarta merupakah salah satu peristiwa berdarah di tahun itu...
(Utas)
14 Mei 1998.
Manajemen mal ngeri. Kerusuhan di ibukota agaknya makin tak terkendali. Sehari sebelumnya, mahasiswa Trisakti berdemo hingga diikuti berbagai kelompok masyarakat yang ingin memprotes krisis ekonomi & tewasnya 4 mahasiswa Trisakti oleh aparat 2 hari sebelumnya.
Di kota-kota lain sudah mulai marak penjarahan yang tak terkendali. Contohnya, pada 2 Mei 1998, Medan sudah dilanda penjarahan nan kacau yang menyebar ke Simalungun, Deli Serdang, dan lain-lain pada 8 Mei 1998.
Hanya tinggal tunggu waktu sebelum Jakarta ikut mengalami.
Akhirnya, sebagai usaha untuk mencegah kekacauan terjadi di Mall Klender, manajemen mal pun menutup mal tersebut.
Sayangnya, penutupan mal sama sekali tidak mencegah gelombang kekacauan datang mengetuk pintu mal tersebut.
Di hari yang sama mal besar itu ditutup, sebagian besar sekolah di Jakarta memulangkan murid-muridnya lebih awal karena khawatir akan kekacauan yang mungkin terjadi.
Tiba-tiba, jalur pulang para pelajar ini terhambat. Mereka bentrok.
Bukan antar pelajar, para pelajar ini bentrok dengan "pemuda" lain yang mengaku sesama pelajar/mahasiswa tapi wajahnya sudah dewasa dan badan mereka pun bongsor kekar. Bentrok ini terjadi sekitar jam 10 hingga 12 siang WIB hingga akhirnya terus bergeser menuju depan Mall Klender.
Bentrokan semakin memanas saat ada ban yang dibakar. Entah siapa yang membakarnya dan juga untuk apa. Namun, hal ini efektif mengundang warga sekitar yang terganggu dan gusar akan kekacauan ini.
Mereka terjun ke lapangan untuk membubarkan para pelajar dan kelompok misterius ini.
Kekacauan mulai sedikit mereda, interupsi warga berhasil.
Namun, tiba-tiba, pada pukul 12.00 WIB, 20 orang asing datang ke lokasi. Mereka berperawakan sama dengan kelompok "pemuda" yang menghadang para pelajar sebelumnya: wajah tua, badan kekar, rambut cepak.
20 orang yang lebih mirip "bala bantuan" itu mengacaukan situasi sehingga bentrokan kembali panas. Mau tak mau, para pemuda yang "sebenarnya" masuk ke gedung mal untuk melindungi diri dari pria-pria pembawa handy talkie ini yang menyerang mereka dengan batu, kayu, dan besi.
Tak lama kemudian, 50 orang massa baru datang dari luar mal. Dengan perawakan mirip dengan "pemuda" sebelum-sebelumnya, mereka malah makin ganas melempari mal dan pertokoan sekitar.
Dengan pentungan, mereka memukuli tembok sehingga menarik perhatian.
Dengan lantang, mereka berteriak, "Jarah Yogya. Serbu...! Itu punya Cina!"
Department store utama di Mall Klender saat itu adalah Yogya. Kemudian, saat itu target penjarahan utama adalah toko-toko milik orang-orang keturunan Tionghoa.
Saat itu, prasangka negatif terhadap orang-orang Tionghoa muncul karena adanya kecemburuan ekonomi masyarakat pribumi terhadap pengusaha-pengusaha Tionghoa. Akibatnya, banyak orang-orang Tionghoa tak bersalah menjadi korban rasisme dan kriminalitas...
Mendengar provokasi pemuda-pemuda tak dikenal itu, warga pun bak kesurupan...
Mall Klender diterobos dan ratusan warga masuk untuk menjarah setiap toko yang ada tanpa adanya interupsi pihak keamanan yang kewalahan serta ketakutan melawan massa.
Dua jam setelah penjarahan Mall Klender dimulai, pada pukul 2 siang, muncul massa yang berpenampilan serupa dari arah Pondok Kopi. Turun dari truk, mereka berpenampilan sama dengan "pemuda" lainnya, berperawakan besar, wajah tua, membawa handy talkie, tapi mengaku mahasiswa.
Selain handy talkie, mereka juga membawa jerigen. Mereka menerobos masuk ke dalam mall yang masih ramai dan menyiram tumpukan kasur serta pakaian di tengah mall dengan isi jerigen.
Kemudian, tumpukan besar itu dibakar...
Di luar mall, kardus juga ikut dibakar.
Tak butuh waktu lama, api membesar dan melahap isi mall. Para warga pun berbondong-bondong panik mencari pintu keluar, termasuk perempuan dan anak-anak. Namun, sia-sia, terlalu banyak massa, terlalu sedikit pintu keluar, terlalu sedikit waktu.
Nekat, banyak yang melompat dari jendela atau turun memakai tali dan peralatan seadanya yang dibuat warga sekitar, namun tak sedikit yang jatuh hingga tewas juga.
17.30 WIB, api sudah melahap seantero mal.
Anehnya, saat ada upaya-upaya terakhir keluar dari mal/masuk ke mal oleh warga luar untuk bantu mengevakuasi korban, ada pihak yang menghalangi pintu masuk mal...
Mall Klender pun terbakar, bersamaan dengan ratusan warga di dalamnya yang mati kesakitan.
Api baru bisa padam pada sekitar pukul 9 malam, itupun karena air hujan turun di wilayah Jatinegara dan sekitarnya.
Namun, semuanya terlambat. Sudah banyak manusia yang terbakar hidup-hidup di dalam mal.
Menurut Pemda DKI, ada 288 yang meninggal dalam pembakaran mal ini.
Namun, Tim Gabungan Pencari Fakta/TGPF Kerusuhan Mei menyebut ada 488 korban jiwa...
Berhari-hari usai tragedi ini, tentara menjaga mal berdarah tersebut. Banyak warga yang datang ke mall, menangis-nangis, berusaha mencari keluarga mereka yang masih belum ditemukan mayatnya...
Pertanyaannya: siapakah kelompok massa misterius yang sengaja membakar api di dalam mal?
Usai mereka menyalakan api di Mall Klender, massa berperawakan bak tentara itu masuk kembali ke truk mereka dan pergi menuju arah Kampung Melayu.
Lalu, kesaksian pasca kerusuhan pun menyebutkan orang-orang ini muncul di berbagai titik di Jakarta pada waktu bersamaan dan membakar juga...
Siapa mereka? Yang terpenting, siapakah yang mengerahkan mereka untuk memanas-manasi kekacauan 1998? Akankah identitasnya terungkap?

Loading suggestions...