Buat saya, guru yang tidak mau belajar, ikut pelatihan, mengupgrade ilmu, baik ilmu kependidikan dan ilmu bidangnya dan selalu mengeluh setiap perubahan kebijakan tidak pantas jadi guru.
Dulu, saya berfikir senaif itu.
Dulu, saya berfikir senaif itu.
Saat itu saya mengajar hanya 12 jam seminggu, di sekolah fasilitas yang baik, satu kelas isinya hanya 15 anak. Kita mendiagnostik satu persatu anak. Berpihak pada anak ibarat layanan kereta eksekutif. Hingga perkara bahwa prilakunya berubah akibat ini itu, dipikirkan serius.
Bagi saya saat itu, menjadi honorer di sekolah negeri adalah buang-buang waktu. Apalagi mereka yang hanya melakukan hal yang sama setiap hari, tidak pernah membuat model dan media pembelajaran terbaru atau membuat variasi. Saat itu saya naif. Pandangan saya pendek.
Setiap kami berdiskusi, saya mengajak mereka membaca buku dan mencoba model-model baru. Bahkan sulit bagi saya mengajak mereka membahas artikel2 terbaru tentang kondisi pendidikan di negara lain.
Namun, saat teman saya berkata: "man, gua ngajar 8 jam sehari. Seharian ngomong trus full setiap minggu." Dan menceritakan beban beban lain yang untuk hidup berstandar umr aja harus ngerjain ini itu. Kapan bisa membaca buku? Kapan bisa memikirkan pembelajaran?
Sementara itu, dalam sejarah terbukti: inovasi, dan kreativitas dilahirkan oleh waktu luang. Mengapa lukisan di Goa Maros Sulawesi 40.000 SM sangat penting? Melukis, menandakan manusia saat itu sudah punya waktu luang. Sudah bebas dari kelaparan (rev neolitik).
Waktu luang = inovasi + kreativitas = Peradaban maju.
Oleh sebab itu, setiap membicarakan soal guru perlu belajar dan kreatif, kita tidak bisa menutup mata dari:
-kesejahteraan
-waktu luang.
Oleh sebab itu bagi yang menuduh guru tidak mau belajar harus menyertakan variabel beban kerja dan waktu luang.
-kesejahteraan
-waktu luang.
Oleh sebab itu bagi yang menuduh guru tidak mau belajar harus menyertakan variabel beban kerja dan waktu luang.
Kalau semena-mena menyatakan guru tidak mau belajar hanya karena mengeluhkan kurikulum baru, tanpa melihat variabel lain, itu seperti mengubur kepala dalam pasir.
Apalagi ketahuan ternyata kampanye semacam ini dilakukan secara sistematis. Saya bukan cenayang yang bisa tahu pikiran orang. Tapi yang namanya ideologi itu beroperasi. Kemanapun larinya, mudah mengetahuinya.
Bayangkan, guru: hidupnya tidak sejahtera, disiksa oleh administrasi, dipersalahkan atas hal yang bukan perbuatannya. Dan terus mengalami siklus seperti itu setiap perubahan kurikulum. Tiba2 kurikulum merdeka sudah baik dan kita harus menerima itu begitu saja. Lah.
Oleh sebab itu penting bagi saya mengajukan antithesis. Bahwa guru bisa belajar, menulis, bisa membaca buku dan bisa mengkritik program serta kurikulum yang mengatur hidup dan karirnya.
Para guru harus punya harga diri atas profesinya dan bisa mengajukan thesisnya sendiri
Para guru harus punya harga diri atas profesinya dan bisa mengajukan thesisnya sendiri
Silahkan baca buku Michael Apple, ahli kurikulum ternama. Rumusnya sederhana,
Jika terjadi perubahan kebijakan pendidikan, pertanyaannya hanya 2:
1. Siapa yang rugi?
2. siapa yang diuntungkan?
Kalau anda guru merasa makin berat dan merogoh kocek pribadi makin dalam,
Jika terjadi perubahan kebijakan pendidikan, pertanyaannya hanya 2:
1. Siapa yang rugi?
2. siapa yang diuntungkan?
Kalau anda guru merasa makin berat dan merogoh kocek pribadi makin dalam,
Karena satu perubahan kebijakan pendidikan. Patut dipertanyakan; kenapa saya harus membayar lebih banyak? Kenapa makin merepotkan? Ini pertanyaan dasar dalam advokasi pendidikan. Bukan advokasi kebijakan pendidikan yang membagus-baguskan dan sorak sorak tanpa gagasan.
Itulah mengapa berorganisasi itu penting. Kita melihat bagaimana perjuangan heroik guru seorang hanya melahirkan momen pendek yang dibayar dengan popularitas sesaat. Tidak menyelesaikan persoalan struktural. Kita, faham. Yang sebenarnya akan meletihkan dan panjang.
Pada organisasi kita menitipkan cita-cita yang tidak selalu sempurna. Tapi bukti bahwa kita tidak sendirian dan penderitaan guru itu benar adanya, harus dicatat dalam sejarah. Silahkan berwisata ke laman pejabat pemangku kebijakan pendidikan. Lihat komentarnya.
Antara postingan dengan komentar seperti bumi dan langit. Kenapa gapnya sangat besar? Karena yang satu sibuk dengan imajinasinya, yang satu sibuk cuci piring kebijakan. Para guru tidak boleh hidup dari imajinasi orang lain yang mengasumsikan guru itu pasti pemalas.
LllSudah saatnya guru menjadi tuan dari kebijakan pendidikan yang mengatur masa depan mereka.
Kita tidak selalu menang dan benar dalam berjuang. Tapi para guru harus hadir dalam sejarah. Kita layak diperlakukan lebih baik dari ini.
Loading suggestions...