Garis Tengah
Garis Tengah

@garistengah_id

22 Tweets 3 reads Jul 02, 2024
Keluarga Agnelli di Juventus bak keluarga Ratu Atut di Banten. Hahahaha
Sudah banyak Agnelli yang memegang tampuk kepemimpinan di Juventus. Hasilnya selalu sama, kesuksesan. Legacy nya nyata, kebanggaannya abadi.
Bagaimana ceritanya? Sebuah utas!
Turun temurunnya keluarga Agnelli di Juve berawal dari Edoardo Agnelli 1923 silam.
Ia menjabat sebagai presiden klub selama 12 tahun dan langsung memberikan dampak signifikan.
Sebelum lanjut, yuk dengerin Podcast Roman Serie A!
Sudah ada 38 episode. Nah terkait Juve, kami bahas secara lengkap dan mendalam di episode ke-37.
Yuk yuk dengerin guysπŸ‘‡
open.spotify.com
Dua tahun usai Edoardo naik tahta, Juve scudetto. Ini merupakan gelar pertama sejak terakhir kali mereka rengkuh 1904. Klub Turin itu tak terbendung.
Periode 1930-1935 scudetto beruntun diraih.
Ada kalanya Juventus dan Agnelli tak bersama. Setelah kematian Edoardo pada 1935, kepemilikan Juve jatuh ke tangan Giovanni Mazzonis.
Baru pada 1947 dinasti Agnelli kembali menjabat. Kali ini anak Edoardo, Gianni Agnelli, yang melanjutkan kisah sukses orang tuanya.
Banyak yang bilang Gianni adalah trah Agnelli paling pintar. Bisnis yang dibangun kakeknya, Giovanni Agnelli, FIAT, menjulang tinggi karena Gianni.
Ia membawa FIAT merambah luar negeri. Pasar Prancis, Yugoslavia, Polandia, sampai Rusia berhasil dikuasai.
Gianni melebarkan sayap dengan membeli saham media kenamaan Italia, La Stampa dan La Repubblica.
β€œTidak berlebihan menyebut bagi orang Italia, Gianni mewakili β€˜Bella Figura’. Ia adalah contoh ideal bagi semua orang: Cerdas, sukses, kaya, dan tampan,” tulis Arber Sulejmani.
Meski dianggap sebagai perpaduan sempurna pebisnis, Gianni tidak lama memimpin Juventus. Jabatan presiden dia emban dari 1947 sampai 1954.
Dengan kepintaran dan pertimbangan banyak hal, dia tidak ingin Si Nyonya Tua dipegang orang lain.
Maka setelah itu Umberto Agnelli yang mengemban tugas untuk memastikan klub tetap di atas.
Tidak ada Agnelli yang tak mampu mempersembahkan scudetto untuk Juventus. Sampai akhirnya klub kebanggaan warga Turin lepas dari Agnelli selama 2 dekade.
Melepaskan diri dari keluarga konglomerat paling terpandang di Italia, Si Nyonya Tua tak kehilangan tajinya.
Alhasil sukses regional diraih. Untuk pertama kalinya Juve menjuarai Liga Champions 1984-1985. Dan mengulanginya 11 musim kemudian.
Vittore Catella, Giampiero Boniperti, Vittorio Caisotti di Chiusano, Franzo Grande Stevens, Giovanni Cobolli Gigli, dan Jean-Claude Blanc secara bergantian memimpin.
Sayang, lama kelamaan rupa busuk klub terbongkar 2006.
Kasusnya pun tidak main-main. Juventus terlibat Calciopoli. Mereka dinyatakan bersalah atas skandal pengaturan skor.
Imbasnya, Manajer Umum Luciano Moggi dihukum larangan berkecimpung di dunia sepak bola seumur hidup.
Adapun Juventus dijebloskan ke Serie B oleh FIGC dan dua scudettonya dibatalkan.
Rangkaian masalah itu ikut mencoreng citra keluarga Agnelli. Beberapa pihak menyebutnya sebagai pangkal masalah yang mencoreng wajah sepak bola Italia.
Sebagai klub yang paling dibenci karena kesuksesannya, kasus Calciopoli turut memunculkan beberapa teori konspirasi.
Para pembenci menuduh Juve menggunakan koneksi petinggi dari royal family Agnelli untuk memetik kemenangan sebelum peluit berbunyi.
Kehancuran Juventus pun datang. Perdana dalam sejarah mereka terdegradasi. Rasa malu yang dirasa karena Calciopoli mungkin tak pernah pulih seluruhnya.
Walau Juve ada dalam kondisi itu, cinta yang sudah dirawat Andrea Agnelli sejak berumur 5 tahun tak mampu lagi dibendung.
Ia naik ke pucuk kepemimpinan Juventus pada 2010 silam dan secara perlahan serta penuh perencanaan, cicit Edoardo Agnelli membangun ulang klub.
Andrea Agnelli bahkan melakukan hal yang sukar terjadi di Italia: Membangun stadion sepak bola.
Andrea enggan mengulang kealpaan Silvio Berlusconi atau Massimo Morratti. Tujuannya ialah menjadikan Juventus klub pertama Italia yang punya stadion pribadi.
Generasi keempat keluarga Agnelli ini paham betul ketertinggalan sepak bola Italia salah satunya bermuara dari stadion.
Klub-klub sulit memaksimalkan pendapatan dari penjualan tiket pertandingan karena uang masuk harus dibagi untuk biaya sewa stadion.
Tanpa stadion, klub kesusahan mencari investor mapan karena tak punya aset tetap.
Inilah yang dilihat Andrea Agnelli dan kemudian mewujudkan proyek ambisiusnya itu pada 2011.
Tepat September 2011 Si Nyonya Tua pindah ke Juventus Stadium. Pada hari yang sama pula mereka menasbihkan diri sebagai klub pertama Italia yang punya markas sendiri.
Di lapangan, Andrea mengembalikan Juventus ke singgasana.
Dahulu kala di bawah kendali kakek buyutnya, La Fidanzata d’Italia, jadi klub pertama yang scudetto lima musim beruntun.
Tujuh dekade lebih kemudian Andrea menjadikan Juve sebagai tim pertama dan satu-satunya yang sapu bersih scudetto 9 kali tanpa putus.
Bersamanya pula Juve merasakan musim tanpa kekalahan, satu-satunya klub yang menembus 102 poin, hingga sukses merekrut mega bintang Cristiano Ronaldo.
Sekarang Juventus tidak lagi dikendalikan keluarga Agnelli. Namun, menilik sejarah, nampaknya Andrea takkan jadi Agnelli terakhir yang memimpin klub tertua Italia.
Thread ini admin ambil dari Podcast Roman Serie A episode ke-37πŸ‘‡
open.spotify.com

Loading suggestions...