BiLLY KHAERUDIN
BiLLY KHAERUDIN

@BiLLYKHAERUDIN

20 Tweets 21 reads Dec 10, 2022
Saat di medsos kalian berseliweran postingan makanan enak dan mewah, ingatlah satu hal ini. Ternyata lebih dari separuh penduduk Indonesia, sekitar 183,7 juta orang atau 68 persen populasi, tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi harian mereka. Silakan dibaca
kompas.id
Tim jurnalisme data @hariankompasย menghitung biaya yg perlu dikeluarkan orang Indonesia membeli makan bergizi seimbang atau sehat. Dibutuhkan biaya Rp 22.126 per hari atau Rp 663.791 per bulan utk makanan bergizi. Jumlah ini ternyata sulit dijangkau.
kompas.id
Harga Rp 22.126 per hari utk makanan sehat ini berdasar standar komposisi gizi Healthy Diet Basket (HDB), yg jg digunakan Food and Agriculture Organization (FAO). Dg biaya sebesar itu, ada 68 % atau 183,7 juta orang Indonesia yang tidak mampu memenuhinya!
kompas.id
Bgm @hariankompas sampai pada kesimpulan lebih dari separuh penduduk Indonesia tak mampu makan makanan bergizi? Hitungan dalam analisis ini menggunakan standar Bank Dunia yang menetapkan pengeluaran untuk bahan pangan maksimal 52 persen dari pengeluaran total keluarga.
Utk menentukan jumlah bahan pangan bergizi seimbang, tim jurnalisme data @hariankompas memakai aplikasi kalkulator biaya pangan yg dikembangkan tim risetย Food Prices for Nutritionย dari Tufts University Amerika Serikat. Simak hitungan lengkapnya di sini
kompas.id
Gizi seimbang artinya menu dengan porsi seimbang antara makanan pokok (sumber karbohidrat), lauk pauk (sumber protein dan lemak), sayuran dan buah, serta air minum. Lalu apakah Indonesia ga punya standar sendiri. Ada. Namanya angka kecukupan gizi (AKG). Hasilnya bagaimana?
Kalau menggunakan AKG 2014 yang dijadikan opsi pada aplikasi kalkulator biaya pangan Tufts University, proporsi jumlah warga Indonesia yang tidak mampu membeli pangan bergizi pun menyusut, karena standar gizi yang lebih rendah. Tapi jumlahnya tetap lebih dari separuh penduduk :((
Jika mengacu standar gizi AKG 2014, persentase penduduk yg tidak mampu membeli pangan sehat sebesar 57 persen populasi Indonesia atau 155 juta penduduk. Setelah merdeka lebih dari 77 tahun, lebih separuh penduduk Indonesia belum mampu makan makanan bergizi. Sedih gak kalian?
Hasil perhitungan tim jurnalisme data @hariankompas iniย tidak jauh berbeda dari analisis FAO tahun 2021 yang menunjukkan bahwa ada 69,1 persen penduduk Indonesia yang tidak mampu membeli pangan bergizi. Gw aja syok bacanya. Lebih lengkapnya baca di sini ya
kompas.id
Iya ini persoalan ketidakmampuan membeli makanan bergizi. Laporan FAO juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki harga pangan bergizi tertinggi dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara apabila memperhitungkan daya beli masyarakatnya. Simak aja datanya
Kenapa sampai pada kesimpulan ini karena ketidakmampuan membeli makanan bergizi? Karena kita juga menggunakan data harga pangan dan data pengeluaran penduduk dari BPS. Provinsi mana saja yang warganya paling banyak tak mampu membeli makanan bergizi. Lihat di sini
Kita konfirmasi temuan ini ke Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo. Dia mengakui, ada problem aksesibilitas pangan bergizi yang besar di Indonesia. "Justru ituย challengeย bagi kami di Badan Pangan Nasional," katanya.
Lupakan bonus demografi dulu. Ini ada yg lebih penting!
Yang miris dari temuan olah data @hariankompas adalah wilayah Indonesia Timur banyak yg warganya tak mampu membeli pangan bergizi. Padahal dulu mereka bisa mengandalkan pangan lokal mereka yg kaya gizi. Seperti dalam kisah ini
kompas.id
Bagaimana Indonesia bisa kalah dari Kamboja, Vietnam dan Malaysia kalau soal pangan bergizi? Simak tulisan tim jurnalisme data @hariankompas berikut ini
kompas.id
Bagaimana dengan pola konsumsi orang-orang kaya Indonesia?
Semakin kaya, pengeluaran makanan semakin besar. Kebutuhan mendapatkan makanan sehat dan berkualitas baik juga semakin tinggi. Semakin kaya, semakin rendah konsumsi karbohidrat. Simak tulisannya
kompas.id
Jadi sekali lagi. Ini masalah kemampuan membeli pangan sehat. Faktanya ada lebih dari separuh penduduk Indonesia yang tak mampu membeli makanan bergizi seimbang.
Baca tulisan lengkap liputan jurnalisme data @hariankompas di kompas.id ya!
kompas.id
Lanjutan liputan jurnalisme data kemarin. Hari ini kita paparkan temuan soal hubungan antara ketidakmampuan warga membeli pangan bergizi dg risiko anak mereka kena stunting alias tengkes. Jadi di daerah di mana banyak warga ga mampu beli pangan bergizi, angka stuntingnya tinggi
Ada korelasi kuat (0,6) antara proporsi warga yg tdk mampu membeli bahan makanan sehat dg prevalensi tengkes di tempat warga tinggal. Makin sedikit warga yg mampu memenuhi gizi seimbang hariannya, makin tinggi risiko anak tengkes di situ. Sila baca di sini
kompas.id
Provinsi Nusa Tenggara Timur, misalnya, ongkos biaya pangan seimbang versi Angka Kecukupan Gizi (AKG) sebesar Rp 19.173 per hari atau Rp 575.192 per bulan. Dari ongkos tersebut, ada 78 persen atau 4,37 juta penduduknya yang tergolong tidak mampu membeli bahan pangan gizi seimbang
Dengan persentase 78 persen populasi penduduk yang tidak mampu membeli pangan bergizi, NTT juga memiliki prevalensi tengkes menurut survei Studi Status Gizi Indonesia 2021 tertinggi di Indonesia dengan angka 37,8 persen. Ini datanya
kompas.id

Loading suggestions...